Kenali Penyebab dan Trik Jitu Mengatasi Stres Pada Balita

Stres Pada Balita – Masa balita menjadi periode penting dalam tahapan tumbuh kembang anak. Dalam kurun waktu ini balita sedang memiliki rasa penasaran yang tinggi dan sedang aktif-aktifnya mencari informasi.

Di samping itu anak usia bayi di bawah lima tahun juga sedang semangat-semangatnya membangun relasi dengan teman sebaya. Teman bermain dan persahabatan mulai berkembang pada masa ini.

Namun tahukah Anda pada periode ini pula anak mulai bisa merasa kesepian dan mengalami penolakan. Bahwa bertemu dengan orang di luar lingkungan keluarga memungkinkan balita menerima banyak tekanan.

Stres atau tekanan yang dialami balita biasanya bersumber dari keharusan menunggu lama, rasa bosan, serta tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Perthatian yang terpecah mapun tidak diperhatikan sama sekali dapat menimbulkan stres.

Seperti stres pada umumnya, penyebab stress pada bayi di bawah lima tahun pun dapat bermacam-macam. Untuk lebih lengkapnya, yuk simak apa saja penyebab stres pada bayi di bawah usia lima tahun serta cara mengatasinya.

Baca juga: Cermati 6 Tanda Stres Pada Balita, Parents Harus Tau!

Kurangnya Waktu Tidur

Pada umumnya anak usia balita memiliki waktu tidur hingga 12 jam sehari. Waktu tidur itu terbagi menjadi tidur siang maupun tidur malam. Meski kelihatannya durasi yang lama, kurangnya waktu tidur membuat cranky atau mudah marah.

Menangani stres pada balita akibat kurang tidur bisa dilakukan dengan menerapkan waktu tidur yang tepat. Anda bisa memulainya dengan menetapkan jam malam dan juga jam tidur siang. Misalnya sepulang sekolah setelah makan, maupun pada malam hari saat pukul 09.00.

Jauhkan anak dari segala jenis gangguan menjelang jam tidur yang telah disepakati. Jauhkan segala jenis gawai dan gunakan lampu tidur agar balita lebih nyaman. Jika kondisi balita tidak membaik, tanyakan apa yang membuat anak kurang tidur.

Bisa jadi karena mereka takut tidur sendirian maupun takut tidur dalam gelap. Maka nyalakan lebih banyak lampu meski bukan lampu utama maupun temani anak sebelum mereka tidur. Kondisi lain saat anak takut hantu atau monster, ajarkan mereka untuk mengalahkan rasa takut dengan berdoa sebelum tidur

Tidak Mendapatkan Apa yang Diinginkan

Penyebab stress pada balita yang paling umum adalah tidak berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan. Balita tertentu masih terlalu muda untuk memahami konsep berbagi dan meminjam.

Padahal ketika berinteraksi dengan teman sebaya, ada kemungkinan mereka mendapatkan penolakan. Misalnya, tidak dipinjami mainan, tidak mendapat bagian, tidak diajak bermain, dan juga tidak mendapat giliran.

Stres Pada Balita - Tidak Mendapatkan Apa yang Diinginkan

Bila di lingkup keluarga biasanya semua perhatian berpusat pada anak, hal itu belum tentu terjadi di lingkungan bermain. Bila biasanya mereka boleh memainkan semua mainan boleh sesuka hati, kali ini belum tentu temannya mengijinkan. Menerima penolakan semacam ini dapat membuat anak terkejut dan stres.

Cara mengatasinya adalah dengan memberikan mereka penjelasan dan pengertian tentang kepemilikan barang. Jelaskan tentang arti meminjam dan meminjamkan serta konsep berbagi. Jelaskan dengan cara sesederhana mungkin serta gunakan contoh agar anak Anda dapat memahaminya.

Kurang Aktivitas Menyenangkan

Balita memiliki energi yang besar. Namun bila energi ini tidak diimbangi dengan aktivitas menyenangkan, energi ini bisa berbalik menjadi tumpukan tekanan. Solusinya, Anda bisa menambahkan kegiatan di luar sekolah untuk anak.

Pada usia balita juga, anak sudah bisa menunjukkan bakat dan minatnya pada bidang tertentu. Nah tidak ada salahnya bila Anda mengikutkan anak pada ekstrakurikuler maupun les tertentu sesuai minat mereka.

Bila memungkinkan, biarkan anak mencoba segala hal yang mereka inginkan. Hal ini juga membantu perkembangan mereka. Baru setelah mencoba, tanyakan kegiatan mana yang paling mereka sukai, maka fokuskan anak untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Eh tapi ingat, anak juga tidak bisa untuk terus beraktivitas. Mereka juga membutuhkan waktu untuk istirahat dan bermain sesuka mereka. Oleh karena itu tetap sediakan waktu bagi mereka untuk bermain.

Minimnya Komunikasi dengan Orang Tua

Minimnya komunikasi dengan orang tua dapat membuat balita merasa stress karena kesepian. Meskipun pada usia ini mereka telah aktif mencari teman dan menjalin persahabatan, orang tua tetap menjadi yang nomor satu.

Maka jangan heran jika anak balita Anda masih suka bermanja-manja dan minta perhatian dari Anda. Bila tanda-tanda ini sudah muncul, maka Anda harus meluangkan waktu untuk anak. Ajaklah anak bermain mainan yang mereka suka atau menonton film favorit.

Stres Pada Balita - Minimnya Komunikasi Dengan Orang Tua

Dengan menghabiskan waktu bersama anak, orang tua bisa menyadari adanya memahami ketidaknyamanan yang balita rasakan. Misalnya keluhan pusing dan sakit perut saat harus melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai. Sebab sangat mungkin stres pada balita berakar dari kegiatan-kegiatan tersebut.

Menghadapi Rasa Bosan

Anak usia balita biasanya cenderung aktif dan sukar berdiam diri. Mereka juga mudah bosan terutama saat harus menunggu lama. Padahal beberapa hal tidak bisa diburu-buru sesuai kemauan anak.

Menghadapi stress pada balita akibat bosan bisa dilakukan dengan bermain. Jadi ketika harus pergi ke tempat ramai dan harus menunggu lama, pastikan Anda membawa satu atau dua mainan favoritnya. Selain itu sediakan snack sebab mereka juga mudah lapar.

Anda juga bisa mengajak anak Anda untuk mengamati sekeliling dan memperhatikan hal-hal menarik. Sembari menunggu, tidak ada salahnya Anda menjelaskan situasi di sekitar Anda pada si anak. Misalnya profesi, bagaimana sesuatu beroperasi, serta objek-objek di sekitar.

Ekspresi Yang Terkekang

Anak usia balita menjadi periode anak suka melakukan aktivitas fisik. Jika balita stres, biasanya mereka akan mengurangi aktifitas ini. Padahal, kegiatan seperti bermain dan menari menjadi salah satu bentuk mengekspresikan diri.

Sebagai orang tua bijak, doronglah anak untuk bermain, menari, dan melompat sebebas mungkin. Ajari anak untuk bernyanyi, meski masih kesulitan menentukan nada maupun melafalkan kalimat. Menyanyi juga menjadi obat stres paling mujarab.

Stres Pada Balita - Ajak Untuk Bernyanyi

Puji mereka dengan bijak, dan dorong mereka untuk bercerita. Mulailah dengan menceritakan hari Anda, lalu tanya aktivitas apa yang mereka lakukan hari ini. Pastikan Anda memberikan perhatian khusus saat anak bercerita, supaya mereka merasa dihargai. Siapa tau, Anda bisa menemukan penyebab stres pada anak lewat cerita itu.

Suasana Rumah

Selanjutnya, cara mengatasi stress pada balita yang bisa dilakukan orang tua adalah dengan menciptakan suasana rumah yang nyaman. Rumah menjadi lingkungan terdekat anak. Maka sebisa mungkin ciptakanlah suasana yang nyaman bagi anak.

Tempat yang nyaman akan membuat anak merasa aman. Dengan begitu anak akan menganggap rumah sebagai tempat berlindung dan tempat di mana ia bebas berekspresi.

Sebagai orang yang lebih dewasa, bersikap tenang saat anak membuat masalah. Ingat, anak balita sedang banyak meniru sikap orang di sekitarnya, termasuk saat mengelola stres. Jadi berusahalah untuk sabar menghadapi anak Anda.

Baca Juga: Parents, Yuk Bantu Mengatasi Stres Pada Anak Usia Sekolah!

Stres Pada Remaja: Kenali Tanda, Penyebab, dan Solusinya!

Stres Pada Remaja – Masa remaja anak kita merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa ini anak telah mengenal persahabatan yang erat, mimpi serta cita-cita yang realistis, dan bahkan cinta pertama.

Pada masa ini juga anak mengalami pubertas seringkali perubahan hormon membuat emosi mereka ikut naik-turun secara tiba-tiba. Masa pubertas biasanya juga erat kaitannya dengan insekuritas karena terjadi perubahan-perubahan tertentu pada bentuk tubuh.

Belum lagi permasalahan di bidang akademis maupun lingkup pertemanan. Sadarkah Anda bahwa masa remaja bisa menjadi masa yang berat untuk anak? Sebab bila tidak memahaminya dengan benar, perubahan tersebut menimbulkan tekanan pada anak. Alhasil anak remaja kita malah stress dan parahnya menjadi depresi.

Sebagai orang tua bijak, baiknya mengenali tanda-tanda stress pada remaja yang mungkin mereka alami. Berikut ini adalah sekilas tentang tanda, penyebab dan penanganan stress pada remaja yang perlu diketahui orang tua.

Baca juga: Sering Bikin Orang Salah Kira, Yuk Kenali Apa itu Stres!

Tanda-Tanda Stress Pada Remaja

Masih Mengompol

Hal pertama yang menjadi tanda stres pada remaja adalah anak masih sering mengompol. Mengompol adalah suatu hal yang wajar bagi masa-masa awal kehidupan anak. Namun jika seiring bertambahnya usia anak masih sering mengompol, maka hal ini bisa menjadi tanda adanya gangguan pada anak.

Stres Pada Remaja - Mengompol

Baik itu gangguan pada kandung kemihnya, maupun gangguan terkait kondisi psikologis seperti stres. Sebab gangguan kecemasan dan stres kerap kali memberi efek melemahkan kandung kemih.

Oleh karenanya orang tua harus waspada saat anak remaja Anda yang sudah berhenti ngompol, tiba-tiba mengompol. Sebab besar kemungkinan anak tersebut sedang mengalami stres.

Mengalami Mimpi Buruk

Gejala stres pada remaja dapat ditandai dengan seringnya bermimpi buruk. Meski sebagian besar mimpi adalah bunga tidur, namun mimpi buruk seperti dikejar atau ketinggalan sesuatu bisa menjadi tanda tubuh sedang stres.

Sebab stres bisa jadi tidak tampak namun, tanpa sadar stres telah menimbulkan tekanan pada alam bawah sadar. Salah satu cara alam bawah sadar untuk menyampaikan bahwa kita sedang stres adalah dengan memberikan sinyal berupa mimpi buruk.

Kecenderungan Berperilaku Negatif

Stres dapat mengacaukan mood dan perilaku anak. Sehingga tidak jarang perilaku anak remaja kita yang stres akan berkebalikan dengan kebiasaan mereka. Misalnya saat mereka mulai berbicara kasar, malas belajar dan susah berkonsentrasi.

Pola tidur anak juga berubah secara drastis. Yakni mereka bisa kesulitan untuk tidur maupun tidur terlalu lama. Pada usia remaja, biasanya anak kita sudah bisa mengambil sikap untuk menjauh stresor.

Nah, perhatikan bagaimana anak berinteraksi dengan orang lain. Apakah mereka menghindari kelompok tertentu, atau malah menghindari kita. Sebaiknya Anda segera mengambil sikap dengan berusaha mencari informasi lebih banyak lewat guru, teman, maupun orang tua dari teman si anak.

Psikosomatis

Secara singkat, penyakit fisik yang disebabkan atau diperparah oleh kondisi mental disebut dengan psikosomatis.Penyakit atau sakit yang ditimbulkan biasanya menyerang satu bagian namun dapat berpindah-pindah. Apabila diperiksakan, anak tak menderita penyakit apapun.

Stres Pada Remaja - Psikosomatis

Misalnya anak mengalami sakit perut, sakit kepala atau pusing, hingga muntah-muntah tanpa sebab yang jelas. Biasanya rasa sakit ini baru akan muncul saat anak remaja kita sedang stres. Seperti saat anak menghadapi minggu ujian, saat akan presentasi, maupun saat tampil di depan panggung.

Penyebab dan Cara Mengatasi Stres Pada Remaja

Lingkungan Pertemanan Yang Kurang Sehat

Masa remaja juga merupakan masa dimana anak sedang mencari jati diri mereka. Mencari tau apa yang mereka inginkan, menentukan mimpi-mimpi, bahkan merencanakan pendidikan dan pekerjaan. 

Namun, lingkungan pertemanan yang kurang sehat dapat menjadi penghalang perwujudan mimpi-mimpi tersebut. Memang sebagai orang tua, sangat tidak bijak bila kita membatasi pertemanan anak, namun berikan pengertian tentang nilai persahabatan yang sesungguhnya.

Stres Pada Remaja - Lingkungan Pertemanan Yang Kurang Sehat

Terutama jika anak remaja kita masuk dalam lingkup pertemanan yang tidak suportif atau malah memandang rendah satu sama lain. Yakinkan anak bahwa sahabat yang baik harusnya saling menolong dan mendukung. Sahabat baik menjadi tempat untuk berbagi mimpi, berbagi suka dan berbagi duka.

Rasa Percaya Diri Rendah

Rasa percaya diri adalah kunci dari masa remaja anak. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, masa remaja lekat dengan perubahan-perubahan fisik maupun mental pada anak. Sehingga tak jarang perubahan ini menimbulkan reaksi negatif seperti rasa percaya diri yang rendah serta insekuritas.

Sebagai orang tua yang bijak, baiknya kita mendampingi anak saat mengalami perubahan tersebut. Berikan pengertian bahwa perubahan itu wajar dan dialami setiap orang meski belum tentu pada waktu yang bersamaan.

Yakinkan bahwa perubahan bentuk tubuh, suara, dan masalah jerawat tidak lantas membuat mereka lebih jelek dari yang lain. Justru sikap percaya diri saat mengalami perubahan merupakan nilai penting saat menjadi dewasa

Larangan Untuk Menangis

Menangis merupakan bentuk ekspresi seseorang saat sedih atau kecewa. Menangis bisa membantu meluapkan emosi yang menumpuk. Melarang anak untuk menangis sama saja mengekang anak untuk berekspresi.

Larangan ini kerap kali diserukan pada anak laki-laki. Namun, sadarkah Anda bahwa larangan menangis ini membuat anak laki-laki rentan dengan stress? Nah dampak stres pada remaja ini dapat berujung pada depresi.

Stres Pada Remaja - Larangan Menangis

Maka perlakukan anak laki-laki dan perempuan dengan sewajarnya. Biarkan mereka menangis untuk melepaskan emosi. Lalu, dampingi mereka dalam menyelesaikan masalah.

Orang Tua Terlalu Sering Melarang

Perilaku orang tua yang terlalu sering melarang dapat menimbulkan rasa tertekan pada remaja. Utamanya jika larangan tersebut tidak memiliki alasan yang jelas. Anak menjadi merasa tak bebas untuk mengungkap perasaan mereka sebab apa-apa dilarang.

Meskipun larangan itu merupakan upaya kita untuk menjaga anak, ada baiknya bila kita memberi kelonggaran. Berikan penjelasan mengapa Anda melarang remaja untuk melakukan hal-hal tertentu. Dari situ, anak akan belajar untuk bertanggung jawab serta memahami konsekuensi atas pilihan yang mereka ambil.

Pertengkaran Orang Tua

Bukan berarti orang tua tidak boleh menunjukkan pertengkaran di hadapan anak. Namun, bila bertengkar di depan anak, tunjukkan pula saat Anda dan pasangan berbaikan. Misalnya saat saling meminta maaf, mengakui kesalahan, maupun saat memaafkan.

Hal ini memang susah dilakukan, namun ingat kita adalah contoh yang akan ditiru anak. Mereka akan merekam bagaimana kita mengolah emosi, bertengkar, dan berdamai.

Nah itu dia sekilas tentang stres pada remaja. Semoga dengan mengenali tanda-tandanya, Anda bisa segera mencari tau permasalahan yang dihadapi anak. Dengan begitu Anda bisa menyiapkan apa saja yang sekiranya mereka butuhkan.

Kalau sedang stres dan butuh hiburan, ada baiknya jika Anda sekeluarga mengagendakan acara liburan bersama. Kalian bisa berlibur ke Bandung, Surabaya, maupun Semarang untuk bisa istirahat melepas penat. Jangan lupa abadikan momen liburan melegakan, lalu cetak dalam photobook bersama ID Photobook ya!

Baca juga: Parents, Yuk Bantu Mengatasi Stres Pada Anak Usia Sekolah!

Cermati 6 Tanda Stres Pada Balita, Parents Harus Tau!

Stres Pada Balita – Hi Parents! Tahukah Anda bahwa stres bisa menyerang siapapun? Orang dewasa dengan segudang masalahnya, juga anak-anak kita yang masih usia dini.

Balita mana mungkin stres! Eits, bisa loh. Kemampuan anak berinteraksi serta kondisi lingkungan di sekitar anak ternyata bisa menimbulkan tekanan-tekanan tertentu yang akhirnya menimbulkan stress pada balita.

Padahal kita sendiri tau bahaya yang timbul akibat stres. Stres bisa membuat kemampuan memecahkan masalah menurun, kesehatan dan kepercayaan diri pun ikut menurun. Nggak mau kan kalau sampai anak kesayangan harus stres?

Baca juga: Sering Bikin Orang Salah Kira, Yuk Kenali Apa itu Stres!

Apa Itu Stres?

Stres adalah suatu bentuk respon alami tubuh saat kita merasakan tekanan, ancaman serta perubahan situasi yang tidak diantisipasi tubuh. Kondisi-kondisi ini dapat memburuk dengan pengaruh lingkungan, jeleknya komunikasi dengan sesama, serta penghargaan diri yang rendah.

Seperti yang dijelaskan di atas, stres dapat menurunkan tingkat kesehatan, kepercayaan diri, hingga kemampuan untuk memecahkan masalah. Pada kondisi yang parah, stres dapat mendorong terjadinya perubahan tingkah laku pada anak.

Namun tak hanya berdampak negatif, dalam beberapa kondisi, stres dapat memberikan dampak positif. Yakni stres dapat membuat anak menjadi lebih bersemangat dan termotivasi untuk meraih sesuatu. Untuk itu pengelolaan stres pada bayi di bawah lima tahun juga sangat penting.

Apa Sih yang Menyebabkan Stress Pada Balita?

Penyebab stress pada bayi di bawah lima tahun dapat bermacam-macam. Bisa jadi balita stres karena kurang tidur, lapar, bosan, dan kesepian. Persoalan yang kelihatan sepele ini ternyata berarti untuk balita, terutama karena belum tentu mereka bisa menentukan perasaan mereka.

Kurang tidur membuat balita cranky dan memicu tantrum. Oleh karenanya, tanyakan apa yang membuat anak kurang tidur. Bisa jadi karena mereka takut dan kesulitan tidur, hingga bermimpi buruk.

Kesepian pada balita bisa terjadi karena minimnya komunikasi dengan orang tua. Sebab meski mereka telah memiliki teman sepermainan dan mulai menjalin persahabatan, orang tua tetap menjadi yang utama bagi anak. Maka jangan heran jika anak balita bersikap manja dan membutuhkan perhatian Anda.

Balita biasanya juga akan mengalami stres saat pengasuhnya berganti. Sebab, mereka harus menyamankan diri dengan wajah asing. Belum lagi jika perlakukan yang mereka terima berbeda, alhasil balita harus beradaptasi lagi.

Lantas, Apa Tanda-Tanda Stres Pada Balita?

Masuk ke bagian pokok, tanda-tanda stres pada balita bisa beragam. Namun yang paling mencolok adalah sikap anak yang mendadak mudah meledak marah. Selain itu, tanda stres pada balita juga dapat dilihat dari:

Stres Pada Balita - Mimpi Buruk

Sulit Tidur dan Bermimpi Buruk

Waktu tidur menjadi momen penting dalam jam tubuh manusia. Baik dewasa, muda, kakek-nenek maupun balita memerlukan waktu tidur yang cukup. Pada balita, rata-rata waktu tidur mencapai 12 jam sehari yang terbagi atas tidur siang dan tidur malam. Apabila mereka sulit tidur, bisa jadi mereka sedang stres.

Balita Melakukan Gerakan Berulang

Tanda stres pada balita juga bisa terlihat dari munculnya kebiasaan baru seperti melakukan gerakan berulang. Misalnya menarik-narik rambut, mengedipkan mata maupun batuk. Biasanya tanda-tanda ini juga akan dibarengi dengan rasa cemas pada anak,

Ledakan Tantrum

Periode balita memang dikenal dengan beragam emosi yang meledak-ledak. Mereka baru saja mengenali emosi-emosi tertentu dan belum bisa mengendalikannya. Kondisi ini akan diperparah bila anak sedang stres.

Balita bisa saja tiba-tiba meledak marah, menangis, lalu merengek tanpa alasan yang jelas. Kemudian, mereka tidak bisa menjelaskan alasan mereka bisa marah dan kesal. Nah, untuk itu sebaiknya orang tua senantiasa sabar menghadapi ledakan-ledakan itu dan memberi anak waktu.

Ketakutan dan Kecemasan Ekstrem

Sangat wajar bila balita merasa takut dan cemas saat melihat wajah-wajah baru. Namun, orang tua patut mempertanyakan bila hal ini terjadi terus-menerus. Cermati apakah mereka selalu takut dan cemas saat mendatangi lokasi tertentu, atau saat mereka bertemu dengan orang-orang tertentu.

Stres Pada Balita - Takut atau Cemas

Sikap Balita Terhadap Orang Lain

Sikap balita pada orang-orang di sekitarnya juga bisa menjadi petunjuk apakah balita sedang stres atau tidak. Yang perlu diperhatikan, balita bisa mengisolasi diri dari lingkungan dan keluarga saat stres. Namun, pada kasus lain, balita bisa memiliki kecenderungan untuk terus bergantung pada pengasuh dan orang tua.

Psikosomatis

Psikosomatis merupakan gangguan penyakit fisik seperti sakit perut dan kepala yang disebabkan oleh pikiran. Yang dimaksud dengan pikiran di sini adalah kondisi stres atau tertekan yang kemudian berubah menjadi sakit fisik.

Jadi orang tua perlu waspada jika anak mengalami sakit atau nyeri tersebut. Apakah benar-benar sakit atau bentuk lain dari stres, 

Cara Mengatasi Stress Pada Balita

Menangani stres pada balita dapat dilakukan dengan banyak cara. Semua itu tergantung pada pandai-pandainya orang tua menyampaikan maksudnya pada balita. Namun yang menjadi langkah awal untuk mengatasi stres pada balita adalah dengan meningkatkan Komunikasi dengan anak,

Orang tua bisa meningkatkan komunikasi dengan menghabiskan waktu lebih banyak bersama anak. Bermain, memasak, bahkan membuat prakarya bersama. Komunikasi dengan anak juga bisa dilakukan dengan sentuhan lembut dan kata-kata menenangkan.

Stres Pada Anak - Cara Mengatasi Stres

Membebaskan anak untuk berekspresi menjadi cara mengatasi stres pada balita selanjutnya. Ajaklah anak untuk bercerita dengan memberi contoh menceritakan sedikit hari Anda. Lalu doronglah anak untuk menceritakan pengalaman hari itu dengan bertanya.

Stres pada balita juga bisa diekspresikan dengan kegiatan bersama seperti menggambar dan bernyanyi. Berikan pujian yang bijak serta dorongan yang kuat agar mereka semakin percaya diri.

Nah parents, itu dia tanda-tanda stres pada balita dan sedikit gambaran untuk mengatasinya. Pastikan Anda dan pasangan bekerja sama untuk membangun suasana rumah yang nyaman dan mendukung kemampuan anak mengelola emosi dan stres.

Jangan lupa ajak keluarga liburan untuk meredakan tekanan yang menghimpit. Anda bisa berkunjung ke Bandung, Bogor maupun Korea untuk melepas stres! Setelah liburan, jangan lupa cetak foto di ID Photobook ya. Supaya kenangan seru melepas penat bisa diabadikan dan nantinya bisa dikenang dengan mudah!

Baca juga: Yuk, Bikin Photobook Unik di 4 Spot Wisata Kota Bandung Ini!

Yang Perlu Parents Tau Tentang Perkembangan Emosi Pada Anak

Emosi Pada Anak – Dalam tahapan tumbuh kembangnya, si kecil juga mengalami perkembangan emosional. Berbeda dengan perkembangan dari segi fisik, perkembangan emosional anak tak akan langsung terlihat dengan mata.

Namun demikian, perkembangan dari segi emosional ini sama pentingnya dengan tahapan tumbuh kembang anak lainnya. Perkembangan emosi si kecil sangat berpengaruh pada sikapnya hingga dewasa nanti.

Baca juga: Cetak Foto 5 Momen Spesial Anak Agar Lebih Mudah Dikenang 

Mengenali Perkembangan Emosional Pada Anak

Perkembangan emosional adalah salah satu tahap dalam rangkaian tumbuh kembang anak. Perkembangan ini mempengaruhi pola interaksinya dengan orang lain serta bagaimana cara anak mengendalikan emosinya sendiri.

Sehingga sangat penting bagi orang tua untuk memahami tahap perkembangan emosi pada anak ini. Sebab bagaimanapun juga, seorang anak  harus belajar menjalin hubungan sosial dengan teman dan lingkungan.

Mengenali perkembangan dapat membantu anak mengendalikan emosi. Dimana saat berinteraksi dengan orang lain, sangat mungkin bagi anak untuk tidak selalu mendapat apa yang diinginkannya. Di samping itu, anak juga perlu belajar untuk berbagi dan berbicara dengan teman sepermainannya.

Yang Bisa Orang Tua Lakukan Dalam Mendampingi Perkembangan Emosi Anak

Ajak Anak Bercerita dan Mengekspresikan Diri

Cara mengatasi emosi anak yang meledak-ledak bisa dilakukan dengan meminta anak untuk menceritakan apa yang sedang mereka rasakan. Jadi sebagai yang lebih dewasa, usahakan Anda tidak ikut terbawa emosi saat anak sedang tantrum.

Ingat, anak dalam tahapan tumbuh kembanganya akan meniru sikap orang-orang di sekitarnya. Termasuk bagaimana cara menghadapi orang yang sedang emosi. Sehingga ketika emosi anak sedang meledak-ledak, mintalah mereka untuk menjelaskan apa yang membuat mereka tidak nyaman, marah, dan tidak sabar.

Pahami Sudut Pandang Anak

Mendengarkan cerita anak membuat Anda secara tidak langsung memberikan waktu bagi anak untuk meluapkan emosi. Hal ini secara tidak langsung membantu anak untuk menjadi lebih tenang.

Di sisi lain, mendengarkan cerita anak juga membantu orang tua untuk memahami sudut pandang anak. Dengan begitu mereka jadi lebih memahami dan berempati dengan apa yang mereka rasakan. Dari situ, tunjukkanlah sikap bahwa orang tua memahami mereka.

Emosi Pada Anak - Ajak Mereka Bicara

Ajari Anak Cara Memecahkan Masalah

Setelah tenang, anak jadi lebih terbuka dengan saran dan lebih siap untuk memecahkan masalah. Di sini orang tua bisa memberi pengertian kepada anak tentang emosi yang mereka rasakan.

Berikan penjelasan tentang hal-hal yang membuat mereka kesal. Misalnya mereka kesal karena mainannya dipinjam, maka berilah pengertian tentang berbagi. Tak hanya tentang mengizinkan temannya untuk meminjam mainan, tapi juga bagaimana cara anak meminjam mainan. Terlebih lagi, ajari anak untuk menerima kata ‘tidak’ jika mainan tersebut memang tidak boleh dipinjamkan.

Ajarkan pada anak untuk bercerita jika ada masalah sebelum ngambek dan menangis. Beri pengertian bahwa akan lebih mudah untuk menyelesaikan masalah bila mereka dalam kondisi tenang. Hal ini juga dapat membantu perkembangan sosial anak.

Memberikan Batasan

Saat mendengarkan cerita anak, Anda juga memberi ruang bagi mereka untuk mengekspresikan diri. Namun, tidak jarang anak memilih mengekspresikan diri dengan memukul orang yang membuatnya kesal.

Nah, di sini Anda harus turun tangan dan memberikan ketegasan bahwa tindakan kekerasan seperti memukul bukanlah hal yang baik. Sebuah pukulan bisa memberi efek negatif seperti memicu kemarahan dan rasa sakit.

Anda bisa memberikan contoh rasa sakit dengan cara mengingatkan saat anak terjatuh. Saat terjatuh, anak bisa merasakan sakit seperti perih dan terluka hingga berbekas. Lalu berikan penjelasan bahwa memukul bisa melampiaskan emosi, namun juga bisa melukai orang lain.

Nah itu dia gambaran singkat tentang perkembangan emosi pada anak usia dini. Jadilah orang tua yang bijak dengan terus sabar dan berusaha memberikan pendampingan terbaik pada anak.

Baca juga: Pentingnya Cetak Foto Kenangan Manis Liburan Bareng Keluarga

Parents, Yuk Bantu Mengatasi Stres Pada Anak Usia Sekolah!

Stres Pada Anak – Jangan karena masih muda Anda mengatakan bahwa anak tidak bisa stres. Faktanya stres bisa menyerang siapa saja termasuk anak usia sekolah. Bahkan faktanya sekolah menjadi lingkungan paling banyak stressor (pemicu stress) di kalangan anak usia dini.

Lantas apa yang dimaksud dengan stress pada anak usia dini? Seperti pengertian umumnya, stres pada anak adalah respon yang ditunjukkan saat anak menghadapi tekanan, perubahan apapun maupun situasi mengancam. Sehingga secara umum penyebab stres pada anak usia dini tekanan, perubahan maupun ancaman.

Nah, lantas sitasi seperti apa yang dapat memicu stress pada anak sekolah? Yuk simak penjelasannya di bawah ini.

Baca juga: Sering Bikin Orang Salah Kira, Yuk Kenali Apa itu Stres!

Stres yang Sering Muncul Pada Anak Sekolah

Masalah stress pada anak yang terjadi di sekolah biasanya disebabkan oleh kemampuan bidang akademik serta lingkungan pertemanan. Namun stres pada anak usia sekolah juga dapat dipengaruhi oleh faktor lain seperti perceraian orang tua dan paparan konten dewasa.

Bahkan beberapa kasus, permasalahan sederhana bisa membuat anak stres sebab mereka belum memahami cara mengelola perasaan dan permasalahan yang mereka alami. Berikut ini adalah penjelasan penyebab stres pada anak usia dini.

Lingkungan Pertemanan

Sekolah merupakan tempat bagi anak untuk menerima pendidikan secara formal. Namun tak hanya belajar, di sekolah pun menjadi tempat bagi anak untuk menjalin persahabatan.

Faktanya banyak kasus stress pada anak akibat tidak memiliki teman yang ‘klik’. Pertemanan yang lekat juga menjadi kunci mengekspresikan diri. Apabila mereka tidak memiliki teman, mereka akan kesepian dan merasa dikucilkan.

Intimidasi dan Perundungan

Persoalan lain yang mungkin muncul dalam lingkup sekolah adalah adanya intimidasi atau perundungan dari teman-teman. Perundungan ini dapat menyebabkan anak rendah diri sehingga menyebabkan mereka tak lagi aktif.

Di sisi lain, perhatikan bagaimana sikap anak terhadap teman-temannya. Jangan sampai anak menjadi pelaku perundungan. Anda bisa mengetahui kondisi ini dengan berbincang dengan guru maupun sesama orang tua murid.

Aktivitas Terlalu Padat

Memasuki usia sekolah, anak memang sedang aktif-aktifnya. Mereka juga mulai menunjukkan bakat dan minatnya pada bidang tertentu. Pada saat yang sama mereka juga ikut les tambahan.

Nah parents, coba bayangkan bagaimana kegiatan anak seharian. Sepulang sekolah, mereka harus ikut kegiatan ekstrakurikuler, istirahat sebentar lalu les privat.

Memang sih tujuan kita ingin mengembangkan kemampuan mereka. Namun aktivitas yang terlalu banyak dan jadwal yang terlalu padat malah membuat anak mudah jenuh dan stres.

Paparan Konten Dewasa Pada Anak Belum Cukup Umur

Usia anak adalah waktu yang tepat untuk bermain. Namun perkembangan teknologi yang semakin maju dan kemudahan akses informasi membuat anak terpapar konten dewasa.

Stres Pada Anak - Paparan Konten Dewasa

Bisa saja mereka mendengar atau membaca berita mengerikan seperti video kekerasan, kecelakaan maut, maupun pornografi. Padahal, peristiwa di atas bisa membuat anak merasa tertekan, takut, hingga akhirnya stres.

Perceraian Orang Tua

Tahukah Anda bahwa stres pada anak akibat perceraian orang tua juga menghilangkan rasa percaya anak pada orang-orang di sekitarnya? Sebab figur orang tua merupakan terdekat dan yang paling mereka percayai.

Meski belum sepenuhnya memahami perceraian, aktivitas pra dan pasca perceraian bisa membuat anak tertekan. Misalnya pertengkaran, suasana rumah yang tak lagi hangat, maupun saat akhirnya kedua orang tua pisah rumah.

Cara Menyembuhkan Stress Pada Anak

Nah, lantas apa yang bisa dilakukan orang tua saat anak sedang stres? Bagaimana cara menyembuhkan stress pada anak usia sekolah?

Pancing Untuk Bercerita

Hal sederhana ini bisa membantu anak meluapkan perasaan dan emosinya. Sebagai orang tua, Anda juga bisa menilai apakah anak sedang lelah atau telah mencapai tahap stres.

Dengarkan cerita mereka sampai selesai. Jangan dipenggal kecuali bila Anda ingin memastikan apa yang mereka sampaikan. Tempatkan diri dari sudut pandang anak untuk lebih memahami perasaan mereka.

Berilah afirmasi sederhana atas perasaan mereka, seperti ‘pantas kakak merasa kesal’. Setelah itu bantulah anak untuk memahami perasaan mereka sendiri lalu ajaklah mereka memahami situasi yang membuat mereka tertekan.

Beri Penjelasan Sederhana dan Mencari Solusi

Bantulah anak untuk lebih memahami situasi di sekitar mereka, utamanya situasi yang membuat mereka stres. Berikan penjelasan singkat yang sederhana agar mereka dapat memahami keadaan.

Dari situ, bantulah anak untuk mencari penyelesaian dari masalah yang mereka alami. Berikan pengertian bahwa apa yang mereka rasakan itu wajar asal bisa dikelola dengan benar.

Batasi Penggunaan Internet

Internet memang tempat untuk mencari informasi. Namun, hal-hal negatif juga dapat bersumber dari internet. Misalnya kasus perundungan di sosial media, video kekerasan, pornografi, dan juga para ‘influencer’ tak bertanggung jawab.

Stres Pada Anak - Batasi Penggunaan Internet

Dengan membatasi penggunaan internet dan sosial media membuat anak tak banyak menghabiskan waktu di depan gawai. Mereka bisa berinteraksi dengan orang-orang di sekitar. Gantilah aktivitas anak dengan bermain board game, berlatih alat musik, membaca buku, maupun berolahraga.

Beri Ruang Untuk Mengekspresikan Diri

Memasuki usia sekolah, anak memiliki kemampuan yang lebih besar untuk berekspresi. Tak hanya melompat atau menari, mereka bisa  menggambar, bernyanyi, dan juga memainkan alat musik. 

Nah, jadikan kemampuan ini untuk melampiaskan emosi serta rasa penat yang menghimpit. Ajak mereka bernyanyi atau menggambar. Jika anak sudah terampil, Anda bisa mengajak mereka untuk stress relief lewat tulisan. Misalnya tuangkan dalam jurnal atau diary

Terapkan Usaha Lebih Berarti Dari Hasil

Ajaklah anak untuk memahami konsep usaha lebih penting dari hasil. Bukan berarti hasil seperti nilai itu tidak penting, namun beri pengertian bahwa Anda juga menghargai usaha dan kerja keras anak.

Hal ini tidak lantas membebaskan anak untuk memiliki standar nilai yang rendah. Berilah pengertian bahwa nilai juga penting untuk melanjutkan pendidikan. Namun proses seperti usaha, kerja keras dan kerja cerdas juga tak kalah penting. Begitu pula dengan nilai kejujuran pada anak kita.

Kurangi Aktivitas

Untuk mengatasi stress pada anak akibat aktivitas yang terlalu padat, maka kurangilah kegiatan mereka. Ganti waktu tersebut dengan waktu bermain bagi anak. Misalnya waktu untuk bermain dengan teman, dengan papan permainan, maupun menonton film dengan pendampingan Anda.

Stres Pada Anak - Kurangi Aktivitas

Selanjutnya Anda juga mengagendakan waktu khusus untuk berlibur! Nggak harus jauh liburan ke luar negeri, Anda bisa liburan ke Malang bersama anak. Saat berlibur, abadikan liburan seru bersama anak dalam foto lalu cetak dalam photobook ya. Jangan lupa cetak foto liburan di ID Photobook!

Nah parents, itu dia cara sederhana yang bisa orang tua lakukan untuk mengatasi stres pada anak. Baiknya pahami setiap penyebab stres lalu tentukan solusinya. Bila memang diperlukan, jangan sungkan untuk mengkonsulkan anak ke psikolog supaya kita bisa benar-benar mengetahui kondisi anak dan bisa menyiapkan kebutuhan mereka.

Baca juga: Yang Perlu Parents Tau Tentang Perkembangan Emosi Pada Anak