Inilah 7 Tips Penting Untuk Jaga Kesehatan Mental

Kesehatan Mental Kesehatan mental di Indonesia masih belum banyak mendapat perhatian. Namun demikian, pentingnya kesehatan mental sudah mulai digaungkan baik melalui media lisan maupun tulisan.

Tak hanya kesehatan mental orang dewasa, kesehatan mental remaja juga perlu mendapat perhatian. Khususnya dengan seiring berkembangnya teknologi yang akhirnya membawa kemudahan akses pada media sosial.

Padahal, citra yang belum tentu 100% benar itu sedikit banyak mengganggu kesehatan mental penikmatnya. Nah berikut ini adalah 7 tips yang dapat kamu lakukan untuk menjaga kesehatan mental kamu.

Baca juga: Masih Sering Dianggap Remeh, Apa Itu Kesehatan Mental?

Hargai Diri Sendiri

Tips paling ampuh untuk menjaga kesehatan mental adalah menghargai diri sendiri. Kamu bisa jadikan menghargai diri sendiri sebagai kebiasaan di pagi hari.

Saat bangun, bergegaslah ke kaca dan pandanglah dia yang ada di hadapanmu. Cobalah untuk tersenyum. Perlahan, bisikkan pada diri sendiri bahwa kamu berharga.

Sekalipun kamu merasa ‘kecil’ dibandingkan dengan teman-teman di sosial media, ingatlah bahwa kamu berarti. Percayalah bahwa ini bukan area balap dan segalanya butuh proses.

Yakinkan hatimu, sekalipun melakukan kesalahan, kamu tetap termaafkan. Katakan bahwa kamu telah memaafkan kesalahan di masa lalu dan siap menjalani hari ini.

Putuskan Pertemanan Beracun

Tak kalah penting, tips menjaga kesehatan mental satu ini juga wajib dilakukan. Sebab kesehatan mental dipengaruhi oleh kondisi di sekitar lingkungan Individu.

Perhatikan lagi lingkungan pertemananmu. Apakah mereka suportif atau tipikal yang datang ketika butuh? Apakah mereka terlalu sering membully dan mengatakan kamu ‘baperan’ dibanding meminta maaf?

Jika kondisi ini terjadi, sayang sekali, kamu berada dalam lingkungan pertemanan beracun. Yang sama seperti racun, mereka bisa membunuh kamu secara perlahan.

Ketika lingkungan di sekitar kamu tidak sehat, kamu cenderung untuk tidak berkembang dan malah meragukan diri sendiri. Akhirnya, bisa jadi kehilangan jati dirimu yang sesungguhnya.

Ingat, kamu bisa mencari teman di mana pun sementara kamu ya cuma kamu. Jika masih merasa sayang untuk memutuskan pertemanan, tak ada salahnya untuk mengurangi intensitas pertemanan.

Jalin Pertemanan Yang Solid

Sebagai ganti perteman beracun, jalinlah ikatan pertemanan yang solid. Cobalah bersikap lebih terbuka dan berusaha menjalin relasi dengan orang-orang baru.

Meski awalnya terasa sulit, berinteraksi dengan banyak orang juga turut menjaga kesehatan mental. Yakni ketika kamu bertemu dengan orang-orang sepemikiran atau beda pikiran namun masih saling mendukung.

Kesehatan Mental - Jalin Pertemanan Yang Solid

Jangan ragu untuk berteman dengan mereka yang terang-terangan mengatakan kamu salah daripada bergosip soal kamu di belakang punggungmu. Pertahankan mereka yang ada di sampingmu saat kamu berduka dan tetaplah setia pada mereka saat mereka sedih.

Jaga Kesehatan Tubuh dengan Makanan Bergizi

Kesehatan mental juga dipengaruhi oleh asupan gizi pada tubuh. Maka aturlah asupan gizi agar tetap berimbang dan sehat.

Biasakan sarapan sehat dengan porsi yang cukup. Sebab konsumsi karbohidrat bisa membangung suasana hati yang positif. Namun jika terlalu banyak malah bisa membuat kamu mengantuk. Akhirnya kamu malah tidak produktif.

Pastikan kamu rutin mengkonsumsi air putih. Tak hanya kopi atau minuman manis lainnya, ibangi juga dengan air putih. Terakhir, jangan lupa lengkapi dengan asupan ikan dan kacang yang kaya protein dan lemak sehat.

Tetap Rajin Berolahraga

Selain atur pola makan, menjaga kesehatan tubuh sebaiknya juga diibangi dengan olahraga teratur. Tak harus olahraga berat seperti kardio, kamu bisa mulai dengan olahraga ringan.

Kamu bisa praktikan senam, gerakan yoga, dan workout secara rutin. Cukup 15-30 menit per hari, tubuh kamu akan terasa lebih ringan dan segar.

Kesehatan Mental - Tetap Rajin Berolahraga

Dengan berkeringat, tubuh akan melepaskan endorfin yang mana membantu menyingkirkan perasaan tertekan. Jika rutin dilakukan setiap hari, suasana hatimu akan lebih positif.

Akhirnya kesehatan mental kamu terjaga, tubuh pun menjadi sehat!

Pola Tidur Yang Baik

Aktivitas fisik sehari-hari harus diimbangi dengan pola tidur dan istirahat yang baik. Sebab seperti mesin, tidak baik jika tubuh kita terus difungsikan tanpa henti. Oleh karena itu, sediakanlah waktu untuk istirahat sejenak.

Di siang hari, ambil waktu 15 menit untuk memejamkan mata tanpa memikirkan apapun. Jangan gunakan waktu ini untuk berselancar di media sosial, ya. Lebih baik fokuskan untuk beristirahat. Jika takut kebablasan, atur pengingat 15 menit di ponselmu.

Saat malam hari, hindari kebiasaan begadang. Lebih baik ubah kebiasaan menjadi tidur lebih awal dan bangun lebih awal. Jangan lupa pasang alarm. Dengan begitu, kamu bisa bangun dan fokus mengerjakan tugas-tugas.

Agendakan Liburan Seru!

Tips menjaga kesehatan mental terakhir ini tak kalah penting! Sebab salah satu cara menjaga kesehatan mental adalah dengan menghindari kondisi stres berat.

Salah satu obat stres yang mujarab adalah berlibur. Nah, jika kamu memang benar-benar lelah, tak ada salahnya untuk mengagendakan waktu liburan seru. Baik itu sendirian maupun bersama orang tersayang, jadikan momen liburan untuk melepas penat.

Kesehatan Mental - Vacation

Pilih destinasi yang tidak terlalu jauh agar kamu tidak kelelahan di jalan. Pilih juga lokasi-lokasi liburan murah dengan harga relatif terjangkau. Kamu bisa liburan tanpa harus bikin kantong kering!

Jangan lupa simpan kenanganmu dalam bentuk foto! Lalu cetak foto liburanmu lewat ID Photobook. Jasa cetak photobook berkualitas ini nggak diragukan lagi kualitasnya. Nggak perlu ribet, nggak perlu lama!

Nah itu dia 7 tips menjaga kesehatan mental yang perlu kamu tau. Meski kelihatannya sepele, jangan remehkan kondisi mental.

Jika kamu merasa terlalu berat dan kesulitan mengatasinya, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan psikolog maupun dengan psikiater.

Baca juga: Sering Bikin Orang Salah Kira, Yuk Kenali Apa itu Stres!

Masih Sering Dianggap Remeh, Apa Itu Kesehatan Mental?

Kesehatan Mental – Sama seperti kesehatan fisik, kamu juga perlu menjaga kesehatan mental. Jika olahraga dan makan makanan sehat membantu menjaga kesehatan fisik, lantas bagaimana dengan kesehatan mental?

Kesehatan mental seseorang sangat berkaitan dengan diri sendiri dan nantinya berkaitan dengan kemampuan individu untuk memaksimalkan potensi. Kesehatan mental tercermin dari kemampuan individu beradaptasi pada lingkungan baru, kepercayaan diri, serta menghadapi masalah.

Meski sudah banyak artikel kesehatan mental yang beredar, namun topik ini tak pernah habis untuk dibahas. Pentingnya kesehatan mental menjadi alasan seringnya topik ini dibahas.

Baca juga: Bisa Berujung Depresi! Yuk Pelajari Akibat Stres Pada Remaja

Apa yang Dimaksud Kesehatan Mental?

Sebelum membahas lebih lanjut, ada baiknya mengenali apa yang dimaksud dengan kesehatan mental. Kesehatan mental adalah kondisi dimana mental seseorang merasa tenang, nyaman, dan dapat memaksimalkan potensinya.

Dengan demikian, orang dengan kesehatan mental yang baik dapat mengatasi tekanan dan berfungsi secara produktif. Sebaliknya, ketidaksehatan mental berhubungan dengan kondisi seseorang yang merasa tidak nyaman untuk melakukan sesuatu.

Seringkali terminologi kesehatan mental masih digunakan untuk menyebut orang-orang dengan gangguan atau kondisi ketidaksehatan mental. Padahal penggunaan istilah ini kurang tepat untuk menyebut adanya gangguan atau masalah pada kesehatan mental.

Apa Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental?

Orang yang mengalami gangguan kesehatan mental akan sulit berkomunikasi dan terhubung’ dengan dunia di sekelilingnya. Ia cenderung menjadi tidak produktif, bahkan kesulitan untuk merawat diri.

Bak dua sisi koin, kesehatan fisik dan kesehatan mental harus dijaga dengan baik. Selain makan makanan sehat dan olahraga teratur, penting juga untuk tidur yang cukup serta menjaga interaksi positif.

Sayangnya, kesadaran tentang kesehatan mental di Indonesia masih sangat rendah, utamanya kesehatan mental remaja. Lebih sering orang yang tidak sehat mental justru dianggap lemah dan sedang ‘mencari perhatian’.

Hal-hal Yang Mempengaruhi Kesehatan Mental

Setelah mengetahui arti pentingnya, ada baiknya memahami hal-hal yang mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Kesehatan mental dipengaruhi oleh kondisi sekitar individu, faktor genetik, stress, serta riwayat yang dimiliki.

Kondisi sekitar individu bermakna adanya masalah yang berlarut-larut seperti masalah kehilangan pekerjaan, kondisi keuangan, merawat orang sakit, dan juga diskriminasi. Sedangkan faktor genetik dapat berupa kelainan pada senyawa otak.

Kesehatan Mental - Hal-hal Yang Mempengaruhi Kesehatan Mental

Gangguan kesehatan mental juga dapat dipengaruhi oleh adanya riwayat kekerasan maupun penggunaan narkotika terlarang. Perasaan terisolasi, trauma pasca peperangan dan kecelakaan juga dapat mempengaruhi kondisi seseorang.

Pencegahaan Adalah Langkah Awal Yang Penting

Bagaimanapun juga, mencegah lebih baik dari mengobati. Oleh karenanya sangat penting untuk mengetahui langkah-langkah pencegahan.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan mental. Pertama, mulailah untuk memaafkan diri sendiri dan melakukan aktifitas olahraga. Berpikiran positif dan kelilingi diri dengan orang-orang berpikiran positif.

Namun demikian, jangan sampai terjebak dalam lingkaran toxic positivity. Yakni kondisi dimana seseorang berada dalam lingkungan positif yang berlebihan. Dimana apapun yang berlebihan juga tak baik.

Jangan lupa belajar untuk lebih memahami diri sendiri. Jangan mengandalkan orang lain untuk mengerti, namun jadilah sosok yang paling mengerti diri sendiri.

Cara Mengatasi Gangguan Kesehatan Mental

Masih ada harapan untuk penderita gangguan kesehatan mental. Dengan perawatan khusus yang intensif, sangat mungkin bagi mereka untuk kembali sehat seperti sedia kala.

Salah satunya adalah dengan melakukan terapi rutin. Lakukan konsultasi rutin dengan psikolog atau psikiater. Konsultasi ini diharapkan dapat membantu individu mencari jalan keluar dari permasalahan mereka.

Kesehatan Mental - Cara Mengatasi Gangguan Kesehatan Mental

Selain itu dapat dilakukan dengan konsumsi obat dan mengikuti support group. Secara pribadi orang dengan gangguan kesehatan mental juga dapat menyusun target-target kecil agar kembali memiliki tujuan.

Nah itu dia gambaran singkat tentang kesehatan mental dan gangguan kesehatan mental. Semoga cukup mudah dipahami, ya.

Baca juga: Stres Pada Remaja: Kenali Tanda, Penyebab, dan Solusinya!

Bisa Berujung Depresi! Yuk Pelajari Dampak Stres Pada Remaja

Stres Pada Remaja – Usia remaja adalah masa-masa paling indah. Pada masa ini anak mulai mengenal warna-warna indah. Tak hanya hitam dan putih, remaja juga mulai mengenal hal-hal seperti cinta, persahabatan sejati hingga mimpi-mimpi.

Namun para remaja yang sedang semangat ini belum memiliki emosi yang stabil. Masih sulit bagi mereka untuk mengendalikan diri. Sehingga tak heran jika mereka masih suka meledak-ledak. Misalnya terlalu bahagia, terlalu sedih, juga terlalu marah.

Lonjakan-lonjakan emosi ini diperparah dengan adanya tekanan dari lingkungan sekitar. Baik dari teman, pendidikan, orang tua, hingga pacar atau gebetan.

Tekanan tersebut semakin nyata dengan adanya media sosial, dimana praktik perundungan makin sering terjadi. Akibatnya stres pada remaja adalah persoalan yang sering muncul dewasa ini.

Jangan anggap remeh kondisi stres pada remaja. Hal ini dapat mempengaruhi perkembangan emosional yang akhirnya dapat berujung pada depresi. Berikut ini adalah gambaran singkat tentang dampak stres pada remaja

Baca juga: Stres Pada Remaja: Kenali Tanda, Penyebab, dan Solusinya!

Memicu Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan stres pada anak. Misalnya perundungan, minimnya komunikasi, hingga hubungan asmara yang tak berjalan lancar. Taukah Anda bahwa stres berat dapat memicu post traumatic stress disorder (PTSD)?

PTSD merupakan akibat yang dirasakan seseorang setelah mengalami suatu kondisi traumatis. Misalnya kecelakaan, bencana alam, kekerasan dan penyiksaan, hingga tindak kriminal sadis. Termasuk kasus perundungan dan kekerasan dalam bentuk apapun. 

Menjadi catatan penting ialah remaja tak perlu mengalami kekerasan untuk bisa trauma. Bisa saja mereka hanya sekilas melihat tindak kekerasan, baik di rumah maupun di di sekolah, lalu mengalami trauma. Kondisi ini marak terjadi terutama pada kasus yang melibatkan orang-orang terdekat.

Memang tidak semua anak yang mengalami atau menyaksikan peristiwa tidak menyenangkan akan mengalami gangguan ini. Namun, orang tua perlu waspada agar bisa memberikan bantuan yang tepat bagi anak.

Penderita PTSD biasanya menunjukkan gejala seperti sering gelisah, mimpi buruk, hingga sulit tidur. Kadang kala kondisi ini dibarengi dengan serangan panik. Nah, Parents, berkonsultasi dengan psikolog menjadi pilihan yang tepat saat anak Anda mulai menunjukkan tanda-tanda stress pada remaja semacam ini.

Siklus Menstruasi Menjadi Tidak Teratur

Kondisi stres dapat mengganggu kinerja hipotalamus selaku bagian otak yang mengatur siklus menstruasi. Terganggunya hipotalamus menyebabkan hormon dalam tubuh perempuan menjadi tidak seimbang. Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan siklus menstruasi menjadi tidak teratur.

Stres Pada Remaja - Siklus Menstruasi Menjadi Tidak Teratur

Hal utama untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan meredakan stres. Salah satunya adalah dengan mengkonsumsi sayur dan buah. Sebab baik mengkonsumsi sayuran dan buah dapat menghasilkan hormon kristosol yang dapat mengendalikan stres. 

Selain itu orang tua bisa membantu sejak anak mulai menunjukkan gejala stres pada remaja. Jadi Ketika anak mulai terlihat jenuh, kesulitan tidur dan berkonsentrasi, bermimpi buruk hingga mudah cemas, carilah cara untuk meredakan stres.

Misalnya dengan mengajak anak untuk berolahraga ringan seperti senam dan yoga. Apabila memang diperlukan, tak ada salahnya untuk mengajak anak berkonsultasi dengan psikolog. Ingat, konsultasi dapat menjadi pilihan yang tepat jika stres pada anak tak kunjung reda.

Melewatkan Kesempatan Karena Psikosomatis

Stres menempatkan tubuh pada kondisi tegang setiap saat. Oleh karenanya anak remaja yang sedang stres akan sering mengeluh badannya pegal dan merasa lelah meski tak banyak aktivitas.

Kondisi tertekan juga dapat memanipulasi otak untuk merasakan sakit pada bagian-bagian tertentu. Rasa sakit fisik yang diakibatkan stres dapat disebut psikosomatis. Rasa sakit ini dapat berpindah-pindah namun biasanya seputar organ pencernaan dan kepala.

Kedengarannya memang sederhana, namun jangan sampai mewajarkan kondisi ini. Jika psikosomatis terus menerus kambuh, kondisi ini bisa dibawa sampai mereka dewasa. Bisa jadi anak malah melewatkan kesempatan emas karena terlalu tegang.

Misalnya kesempatan untuk mengerjakan soal ujian dengan maksimal namun karena harus menahan rasa sakit, anak jadi sulit berkonsentrasi. Sayang kan kalau sampai benar-benar kejadian.

Gangguan Kecemasan dan Depresi

Stres memiliki pengaruh langsung pada kondisi kesehatan mental anak. Terutama pada kasus dimana anak remaja kesulitan mencari tempat untuk bercerita. Baik karena tak memiliki teman dekat yang nyaman maupun karena orang tua yang tidak bersahabat.

Minimnya komunikasi ini akan membuat anak merasa kesepian dan sendirian. Akhirnya mereka hanya bisa memendam tanpa tau bagaimana cara yang tepat untuk mengolah emosi dan stres. Kondisi stres yang berlarut-larut ini akan memicu stres berat yang kemudian berujung pada depresi.

Stres Pada Remaja - Gangguan Kecemasan

Stres dan depresi adalah dua hal yang berbeda. Jika stres masih bisa diolah dan dijadikan motivasi, depresi menjadi titik terendah manusia. Pada kondisi depresi seorang remaja dapat merasa sedih selama berminggu-minggu tanpa ada gairah untuk melakukan sesuatu.

Selanjutnya depresi dapat menghilangkan rasa percaya diri dan penghargaan diri. Penderita depresi memiliki pemikiran negatif yang konstan dan dapat menghasilkan dorongan untuk melukai diri sendiri hingga bunuh diri.

Oleh karenanya, orang tua perlu waspada jika anak remaja mulai menunjukkan tanda stres berat dan depresi. Jangan sungkan dan segera konsultasikan kondisi anak ke psikolog maupun psikiater agar dapat memberikan penanganan yang cepat dan tepat.

Nah itu dia dampak stres pada remaja. Baik kondisi fisik maupun mental, keduanya perlu mendapat perhatian dan penanganan khusus.

Menjadi orang tua saat menghadapi anak yang sedang stres memang tidak mudah. Penuh kekhawatiran sekaligus kesabaran ekstra. Namun ingatlah bahwa komitmen Anda yang membawa anak lahir dan menjalani hidup di dunia. Sudah selayaknya Anda bersikap dewasa dengan berusaha memahami kondisi anak.

Baca juga: Harus Lebih Peka, Yuk Kenali Tanda Stres Pada Anak!

Stres Pada Remaja: Kenali Tanda, Penyebab, dan Solusinya!

Stres Pada Remaja – Masa remaja anak kita merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa ini anak telah mengenal persahabatan yang erat, mimpi serta cita-cita yang realistis, dan bahkan cinta pertama.

Pada masa ini juga anak mengalami pubertas seringkali perubahan hormon membuat emosi mereka ikut naik-turun secara tiba-tiba. Masa pubertas biasanya juga erat kaitannya dengan insekuritas karena terjadi perubahan-perubahan tertentu pada bentuk tubuh.

Belum lagi permasalahan di bidang akademis maupun lingkup pertemanan. Sadarkah Anda bahwa masa remaja bisa menjadi masa yang berat untuk anak? Sebab bila tidak memahaminya dengan benar, perubahan tersebut menimbulkan tekanan pada anak. Alhasil anak remaja kita malah stress dan parahnya menjadi depresi.

Sebagai orang tua bijak, baiknya mengenali tanda-tanda stress pada remaja yang mungkin mereka alami. Berikut ini adalah sekilas tentang tanda, penyebab dan penanganan stress pada remaja yang perlu diketahui orang tua.

Baca juga: Sering Bikin Orang Salah Kira, Yuk Kenali Apa itu Stres!

Tanda-Tanda Stress Pada Remaja

Masih Mengompol

Hal pertama yang menjadi tanda stres pada remaja adalah anak masih sering mengompol. Mengompol adalah suatu hal yang wajar bagi masa-masa awal kehidupan anak. Namun jika seiring bertambahnya usia anak masih sering mengompol, maka hal ini bisa menjadi tanda adanya gangguan pada anak.

Stres Pada Remaja - Mengompol

Baik itu gangguan pada kandung kemihnya, maupun gangguan terkait kondisi psikologis seperti stres. Sebab gangguan kecemasan dan stres kerap kali memberi efek melemahkan kandung kemih.

Oleh karenanya orang tua harus waspada saat anak remaja Anda yang sudah berhenti ngompol, tiba-tiba mengompol. Sebab besar kemungkinan anak tersebut sedang mengalami stres.

Mengalami Mimpi Buruk

Gejala stres pada remaja dapat ditandai dengan seringnya bermimpi buruk. Meski sebagian besar mimpi adalah bunga tidur, namun mimpi buruk seperti dikejar atau ketinggalan sesuatu bisa menjadi tanda tubuh sedang stres.

Sebab stres bisa jadi tidak tampak namun, tanpa sadar stres telah menimbulkan tekanan pada alam bawah sadar. Salah satu cara alam bawah sadar untuk menyampaikan bahwa kita sedang stres adalah dengan memberikan sinyal berupa mimpi buruk.

Kecenderungan Berperilaku Negatif

Stres dapat mengacaukan mood dan perilaku anak. Sehingga tidak jarang perilaku anak remaja kita yang stres akan berkebalikan dengan kebiasaan mereka. Misalnya saat mereka mulai berbicara kasar, malas belajar dan susah berkonsentrasi.

Pola tidur anak juga berubah secara drastis. Yakni mereka bisa kesulitan untuk tidur maupun tidur terlalu lama. Pada usia remaja, biasanya anak kita sudah bisa mengambil sikap untuk menjauh stresor.

Nah, perhatikan bagaimana anak berinteraksi dengan orang lain. Apakah mereka menghindari kelompok tertentu, atau malah menghindari kita. Sebaiknya Anda segera mengambil sikap dengan berusaha mencari informasi lebih banyak lewat guru, teman, maupun orang tua dari teman si anak.

Psikosomatis

Secara singkat, penyakit fisik yang disebabkan atau diperparah oleh kondisi mental disebut dengan psikosomatis.Penyakit atau sakit yang ditimbulkan biasanya menyerang satu bagian namun dapat berpindah-pindah. Apabila diperiksakan, anak tak menderita penyakit apapun.

Stres Pada Remaja - Psikosomatis

Misalnya anak mengalami sakit perut, sakit kepala atau pusing, hingga muntah-muntah tanpa sebab yang jelas. Biasanya rasa sakit ini baru akan muncul saat anak remaja kita sedang stres. Seperti saat anak menghadapi minggu ujian, saat akan presentasi, maupun saat tampil di depan panggung.

Penyebab dan Cara Mengatasi Stres Pada Remaja

Lingkungan Pertemanan Yang Kurang Sehat

Masa remaja juga merupakan masa dimana anak sedang mencari jati diri mereka. Mencari tau apa yang mereka inginkan, menentukan mimpi-mimpi, bahkan merencanakan pendidikan dan pekerjaan. 

Namun, lingkungan pertemanan yang kurang sehat dapat menjadi penghalang perwujudan mimpi-mimpi tersebut. Memang sebagai orang tua, sangat tidak bijak bila kita membatasi pertemanan anak, namun berikan pengertian tentang nilai persahabatan yang sesungguhnya.

Stres Pada Remaja - Lingkungan Pertemanan Yang Kurang Sehat

Terutama jika anak remaja kita masuk dalam lingkup pertemanan yang tidak suportif atau malah memandang rendah satu sama lain. Yakinkan anak bahwa sahabat yang baik harusnya saling menolong dan mendukung. Sahabat baik menjadi tempat untuk berbagi mimpi, berbagi suka dan berbagi duka.

Rasa Percaya Diri Rendah

Rasa percaya diri adalah kunci dari masa remaja anak. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, masa remaja lekat dengan perubahan-perubahan fisik maupun mental pada anak. Sehingga tak jarang perubahan ini menimbulkan reaksi negatif seperti rasa percaya diri yang rendah serta insekuritas.

Sebagai orang tua yang bijak, baiknya kita mendampingi anak saat mengalami perubahan tersebut. Berikan pengertian bahwa perubahan itu wajar dan dialami setiap orang meski belum tentu pada waktu yang bersamaan.

Yakinkan bahwa perubahan bentuk tubuh, suara, dan masalah jerawat tidak lantas membuat mereka lebih jelek dari yang lain. Justru sikap percaya diri saat mengalami perubahan merupakan nilai penting saat menjadi dewasa

Larangan Untuk Menangis

Menangis merupakan bentuk ekspresi seseorang saat sedih atau kecewa. Menangis bisa membantu meluapkan emosi yang menumpuk. Melarang anak untuk menangis sama saja mengekang anak untuk berekspresi.

Larangan ini kerap kali diserukan pada anak laki-laki. Namun, sadarkah Anda bahwa larangan menangis ini membuat anak laki-laki rentan dengan stress? Nah dampak stres pada remaja ini dapat berujung pada depresi.

Stres Pada Remaja - Larangan Menangis

Maka perlakukan anak laki-laki dan perempuan dengan sewajarnya. Biarkan mereka menangis untuk melepaskan emosi. Lalu, dampingi mereka dalam menyelesaikan masalah.

Orang Tua Terlalu Sering Melarang

Perilaku orang tua yang terlalu sering melarang dapat menimbulkan rasa tertekan pada remaja. Utamanya jika larangan tersebut tidak memiliki alasan yang jelas. Anak menjadi merasa tak bebas untuk mengungkap perasaan mereka sebab apa-apa dilarang.

Meskipun larangan itu merupakan upaya kita untuk menjaga anak, ada baiknya bila kita memberi kelonggaran. Berikan penjelasan mengapa Anda melarang remaja untuk melakukan hal-hal tertentu. Dari situ, anak akan belajar untuk bertanggung jawab serta memahami konsekuensi atas pilihan yang mereka ambil.

Pertengkaran Orang Tua

Bukan berarti orang tua tidak boleh menunjukkan pertengkaran di hadapan anak. Namun, bila bertengkar di depan anak, tunjukkan pula saat Anda dan pasangan berbaikan. Misalnya saat saling meminta maaf, mengakui kesalahan, maupun saat memaafkan.

Hal ini memang susah dilakukan, namun ingat kita adalah contoh yang akan ditiru anak. Mereka akan merekam bagaimana kita mengolah emosi, bertengkar, dan berdamai.

Nah itu dia sekilas tentang stres pada remaja. Semoga dengan mengenali tanda-tandanya, Anda bisa segera mencari tau permasalahan yang dihadapi anak. Dengan begitu Anda bisa menyiapkan apa saja yang sekiranya mereka butuhkan.

Kalau sedang stres dan butuh hiburan, ada baiknya jika Anda sekeluarga mengagendakan acara liburan bersama. Kalian bisa berlibur ke Bandung, Surabaya, maupun Semarang untuk bisa istirahat melepas penat. Jangan lupa abadikan momen liburan melegakan, lalu cetak dalam photobook bersama ID Photobook ya!

Baca juga: Parents, Yuk Bantu Mengatasi Stres Pada Anak Usia Sekolah!