Bisa Berujung Depresi! Yuk Pelajari Dampak Stres Pada Remaja

Stres Pada Remaja – Usia remaja adalah masa-masa paling indah. Pada masa ini anak mulai mengenal warna-warna indah. Tak hanya hitam dan putih, remaja juga mulai mengenal hal-hal seperti cinta, persahabatan sejati hingga mimpi-mimpi.

Namun para remaja yang sedang semangat ini belum memiliki emosi yang stabil. Masih sulit bagi mereka untuk mengendalikan diri. Sehingga tak heran jika mereka masih suka meledak-ledak. Misalnya terlalu bahagia, terlalu sedih, juga terlalu marah.

Lonjakan-lonjakan emosi ini diperparah dengan adanya tekanan dari lingkungan sekitar. Baik dari teman, pendidikan, orang tua, hingga pacar atau gebetan.

Tekanan tersebut semakin nyata dengan adanya media sosial, dimana praktik perundungan makin sering terjadi. Akibatnya stres pada remaja adalah persoalan yang sering muncul dewasa ini.

Jangan anggap remeh kondisi stres pada remaja. Hal ini dapat mempengaruhi perkembangan emosional yang akhirnya dapat berujung pada depresi. Berikut ini adalah gambaran singkat tentang dampak stres pada remaja

Baca juga: Stres Pada Remaja: Kenali Tanda, Penyebab, dan Solusinya!

Memicu Post Traumatic Stress Disorder (PTSD)

Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan stres pada anak. Misalnya perundungan, minimnya komunikasi, hingga hubungan asmara yang tak berjalan lancar. Taukah Anda bahwa stres berat dapat memicu post traumatic stress disorder (PTSD)?

PTSD merupakan akibat yang dirasakan seseorang setelah mengalami suatu kondisi traumatis. Misalnya kecelakaan, bencana alam, kekerasan dan penyiksaan, hingga tindak kriminal sadis. Termasuk kasus perundungan dan kekerasan dalam bentuk apapun. 

Menjadi catatan penting ialah remaja tak perlu mengalami kekerasan untuk bisa trauma. Bisa saja mereka hanya sekilas melihat tindak kekerasan, baik di rumah maupun di di sekolah, lalu mengalami trauma. Kondisi ini marak terjadi terutama pada kasus yang melibatkan orang-orang terdekat.

Memang tidak semua anak yang mengalami atau menyaksikan peristiwa tidak menyenangkan akan mengalami gangguan ini. Namun, orang tua perlu waspada agar bisa memberikan bantuan yang tepat bagi anak.

Penderita PTSD biasanya menunjukkan gejala seperti sering gelisah, mimpi buruk, hingga sulit tidur. Kadang kala kondisi ini dibarengi dengan serangan panik. Nah, Parents, berkonsultasi dengan psikolog menjadi pilihan yang tepat saat anak Anda mulai menunjukkan tanda-tanda stress pada remaja semacam ini.

Siklus Menstruasi Menjadi Tidak Teratur

Kondisi stres dapat mengganggu kinerja hipotalamus selaku bagian otak yang mengatur siklus menstruasi. Terganggunya hipotalamus menyebabkan hormon dalam tubuh perempuan menjadi tidak seimbang. Kondisi inilah yang kemudian menyebabkan siklus menstruasi menjadi tidak teratur.

Stres Pada Remaja - Siklus Menstruasi Menjadi Tidak Teratur

Hal utama untuk mengatasi kondisi ini adalah dengan meredakan stres. Salah satunya adalah dengan mengkonsumsi sayur dan buah. Sebab baik mengkonsumsi sayuran dan buah dapat menghasilkan hormon kristosol yang dapat mengendalikan stres. 

Selain itu orang tua bisa membantu sejak anak mulai menunjukkan gejala stres pada remaja. Jadi Ketika anak mulai terlihat jenuh, kesulitan tidur dan berkonsentrasi, bermimpi buruk hingga mudah cemas, carilah cara untuk meredakan stres.

Misalnya dengan mengajak anak untuk berolahraga ringan seperti senam dan yoga. Apabila memang diperlukan, tak ada salahnya untuk mengajak anak berkonsultasi dengan psikolog. Ingat, konsultasi dapat menjadi pilihan yang tepat jika stres pada anak tak kunjung reda.

Melewatkan Kesempatan Karena Psikosomatis

Stres menempatkan tubuh pada kondisi tegang setiap saat. Oleh karenanya anak remaja yang sedang stres akan sering mengeluh badannya pegal dan merasa lelah meski tak banyak aktivitas.

Kondisi tertekan juga dapat memanipulasi otak untuk merasakan sakit pada bagian-bagian tertentu. Rasa sakit fisik yang diakibatkan stres dapat disebut psikosomatis. Rasa sakit ini dapat berpindah-pindah namun biasanya seputar organ pencernaan dan kepala.

Kedengarannya memang sederhana, namun jangan sampai mewajarkan kondisi ini. Jika psikosomatis terus menerus kambuh, kondisi ini bisa dibawa sampai mereka dewasa. Bisa jadi anak malah melewatkan kesempatan emas karena terlalu tegang.

Misalnya kesempatan untuk mengerjakan soal ujian dengan maksimal namun karena harus menahan rasa sakit, anak jadi sulit berkonsentrasi. Sayang kan kalau sampai benar-benar kejadian.

Gangguan Kecemasan dan Depresi

Stres memiliki pengaruh langsung pada kondisi kesehatan mental anak. Terutama pada kasus dimana anak remaja kesulitan mencari tempat untuk bercerita. Baik karena tak memiliki teman dekat yang nyaman maupun karena orang tua yang tidak bersahabat.

Minimnya komunikasi ini akan membuat anak merasa kesepian dan sendirian. Akhirnya mereka hanya bisa memendam tanpa tau bagaimana cara yang tepat untuk mengolah emosi dan stres. Kondisi stres yang berlarut-larut ini akan memicu stres berat yang kemudian berujung pada depresi.

Stres Pada Remaja - Gangguan Kecemasan

Stres dan depresi adalah dua hal yang berbeda. Jika stres masih bisa diolah dan dijadikan motivasi, depresi menjadi titik terendah manusia. Pada kondisi depresi seorang remaja dapat merasa sedih selama berminggu-minggu tanpa ada gairah untuk melakukan sesuatu.

Selanjutnya depresi dapat menghilangkan rasa percaya diri dan penghargaan diri. Penderita depresi memiliki pemikiran negatif yang konstan dan dapat menghasilkan dorongan untuk melukai diri sendiri hingga bunuh diri.

Oleh karenanya, orang tua perlu waspada jika anak remaja mulai menunjukkan tanda stres berat dan depresi. Jangan sungkan dan segera konsultasikan kondisi anak ke psikolog maupun psikiater agar dapat memberikan penanganan yang cepat dan tepat.

Nah itu dia dampak stres pada remaja. Baik kondisi fisik maupun mental, keduanya perlu mendapat perhatian dan penanganan khusus.

Menjadi orang tua saat menghadapi anak yang sedang stres memang tidak mudah. Penuh kekhawatiran sekaligus kesabaran ekstra. Namun ingatlah bahwa komitmen Anda yang membawa anak lahir dan menjalani hidup di dunia. Sudah selayaknya Anda bersikap dewasa dengan berusaha memahami kondisi anak.

Baca juga: Harus Lebih Peka, Yuk Kenali Tanda Stres Pada Anak!

Stres Pada Remaja: Kenali Tanda, Penyebab, dan Solusinya!

Stres Pada Remaja – Masa remaja anak kita merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa ini anak telah mengenal persahabatan yang erat, mimpi serta cita-cita yang realistis, dan bahkan cinta pertama.

Pada masa ini juga anak mengalami pubertas seringkali perubahan hormon membuat emosi mereka ikut naik-turun secara tiba-tiba. Masa pubertas biasanya juga erat kaitannya dengan insekuritas karena terjadi perubahan-perubahan tertentu pada bentuk tubuh.

Belum lagi permasalahan di bidang akademis maupun lingkup pertemanan. Sadarkah Anda bahwa masa remaja bisa menjadi masa yang berat untuk anak? Sebab bila tidak memahaminya dengan benar, perubahan tersebut menimbulkan tekanan pada anak. Alhasil anak remaja kita malah stress dan parahnya menjadi depresi.

Sebagai orang tua bijak, baiknya mengenali tanda-tanda stress pada remaja yang mungkin mereka alami. Berikut ini adalah sekilas tentang tanda, penyebab dan penanganan stress pada remaja yang perlu diketahui orang tua.

Baca juga: Sering Bikin Orang Salah Kira, Yuk Kenali Apa itu Stres!

Tanda-Tanda Stress Pada Remaja

Masih Mengompol

Hal pertama yang menjadi tanda stres pada remaja adalah anak masih sering mengompol. Mengompol adalah suatu hal yang wajar bagi masa-masa awal kehidupan anak. Namun jika seiring bertambahnya usia anak masih sering mengompol, maka hal ini bisa menjadi tanda adanya gangguan pada anak.

Stres Pada Remaja - Mengompol

Baik itu gangguan pada kandung kemihnya, maupun gangguan terkait kondisi psikologis seperti stres. Sebab gangguan kecemasan dan stres kerap kali memberi efek melemahkan kandung kemih.

Oleh karenanya orang tua harus waspada saat anak remaja Anda yang sudah berhenti ngompol, tiba-tiba mengompol. Sebab besar kemungkinan anak tersebut sedang mengalami stres.

Mengalami Mimpi Buruk

Gejala stres pada remaja dapat ditandai dengan seringnya bermimpi buruk. Meski sebagian besar mimpi adalah bunga tidur, namun mimpi buruk seperti dikejar atau ketinggalan sesuatu bisa menjadi tanda tubuh sedang stres.

Sebab stres bisa jadi tidak tampak namun, tanpa sadar stres telah menimbulkan tekanan pada alam bawah sadar. Salah satu cara alam bawah sadar untuk menyampaikan bahwa kita sedang stres adalah dengan memberikan sinyal berupa mimpi buruk.

Kecenderungan Berperilaku Negatif

Stres dapat mengacaukan mood dan perilaku anak. Sehingga tidak jarang perilaku anak remaja kita yang stres akan berkebalikan dengan kebiasaan mereka. Misalnya saat mereka mulai berbicara kasar, malas belajar dan susah berkonsentrasi.

Pola tidur anak juga berubah secara drastis. Yakni mereka bisa kesulitan untuk tidur maupun tidur terlalu lama. Pada usia remaja, biasanya anak kita sudah bisa mengambil sikap untuk menjauh stresor.

Nah, perhatikan bagaimana anak berinteraksi dengan orang lain. Apakah mereka menghindari kelompok tertentu, atau malah menghindari kita. Sebaiknya Anda segera mengambil sikap dengan berusaha mencari informasi lebih banyak lewat guru, teman, maupun orang tua dari teman si anak.

Psikosomatis

Secara singkat, penyakit fisik yang disebabkan atau diperparah oleh kondisi mental disebut dengan psikosomatis.Penyakit atau sakit yang ditimbulkan biasanya menyerang satu bagian namun dapat berpindah-pindah. Apabila diperiksakan, anak tak menderita penyakit apapun.

Stres Pada Remaja - Psikosomatis

Misalnya anak mengalami sakit perut, sakit kepala atau pusing, hingga muntah-muntah tanpa sebab yang jelas. Biasanya rasa sakit ini baru akan muncul saat anak remaja kita sedang stres. Seperti saat anak menghadapi minggu ujian, saat akan presentasi, maupun saat tampil di depan panggung.

Penyebab dan Cara Mengatasi Stres Pada Remaja

Lingkungan Pertemanan Yang Kurang Sehat

Masa remaja juga merupakan masa dimana anak sedang mencari jati diri mereka. Mencari tau apa yang mereka inginkan, menentukan mimpi-mimpi, bahkan merencanakan pendidikan dan pekerjaan. 

Namun, lingkungan pertemanan yang kurang sehat dapat menjadi penghalang perwujudan mimpi-mimpi tersebut. Memang sebagai orang tua, sangat tidak bijak bila kita membatasi pertemanan anak, namun berikan pengertian tentang nilai persahabatan yang sesungguhnya.

Stres Pada Remaja - Lingkungan Pertemanan Yang Kurang Sehat

Terutama jika anak remaja kita masuk dalam lingkup pertemanan yang tidak suportif atau malah memandang rendah satu sama lain. Yakinkan anak bahwa sahabat yang baik harusnya saling menolong dan mendukung. Sahabat baik menjadi tempat untuk berbagi mimpi, berbagi suka dan berbagi duka.

Rasa Percaya Diri Rendah

Rasa percaya diri adalah kunci dari masa remaja anak. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, masa remaja lekat dengan perubahan-perubahan fisik maupun mental pada anak. Sehingga tak jarang perubahan ini menimbulkan reaksi negatif seperti rasa percaya diri yang rendah serta insekuritas.

Sebagai orang tua yang bijak, baiknya kita mendampingi anak saat mengalami perubahan tersebut. Berikan pengertian bahwa perubahan itu wajar dan dialami setiap orang meski belum tentu pada waktu yang bersamaan.

Yakinkan bahwa perubahan bentuk tubuh, suara, dan masalah jerawat tidak lantas membuat mereka lebih jelek dari yang lain. Justru sikap percaya diri saat mengalami perubahan merupakan nilai penting saat menjadi dewasa

Larangan Untuk Menangis

Menangis merupakan bentuk ekspresi seseorang saat sedih atau kecewa. Menangis bisa membantu meluapkan emosi yang menumpuk. Melarang anak untuk menangis sama saja mengekang anak untuk berekspresi.

Larangan ini kerap kali diserukan pada anak laki-laki. Namun, sadarkah Anda bahwa larangan menangis ini membuat anak laki-laki rentan dengan stress? Nah dampak stres pada remaja ini dapat berujung pada depresi.

Stres Pada Remaja - Larangan Menangis

Maka perlakukan anak laki-laki dan perempuan dengan sewajarnya. Biarkan mereka menangis untuk melepaskan emosi. Lalu, dampingi mereka dalam menyelesaikan masalah.

Orang Tua Terlalu Sering Melarang

Perilaku orang tua yang terlalu sering melarang dapat menimbulkan rasa tertekan pada remaja. Utamanya jika larangan tersebut tidak memiliki alasan yang jelas. Anak menjadi merasa tak bebas untuk mengungkap perasaan mereka sebab apa-apa dilarang.

Meskipun larangan itu merupakan upaya kita untuk menjaga anak, ada baiknya bila kita memberi kelonggaran. Berikan penjelasan mengapa Anda melarang remaja untuk melakukan hal-hal tertentu. Dari situ, anak akan belajar untuk bertanggung jawab serta memahami konsekuensi atas pilihan yang mereka ambil.

Pertengkaran Orang Tua

Bukan berarti orang tua tidak boleh menunjukkan pertengkaran di hadapan anak. Namun, bila bertengkar di depan anak, tunjukkan pula saat Anda dan pasangan berbaikan. Misalnya saat saling meminta maaf, mengakui kesalahan, maupun saat memaafkan.

Hal ini memang susah dilakukan, namun ingat kita adalah contoh yang akan ditiru anak. Mereka akan merekam bagaimana kita mengolah emosi, bertengkar, dan berdamai.

Nah itu dia sekilas tentang stres pada remaja. Semoga dengan mengenali tanda-tandanya, Anda bisa segera mencari tau permasalahan yang dihadapi anak. Dengan begitu Anda bisa menyiapkan apa saja yang sekiranya mereka butuhkan.

Kalau sedang stres dan butuh hiburan, ada baiknya jika Anda sekeluarga mengagendakan acara liburan bersama. Kalian bisa berlibur ke Bandung, Surabaya, maupun Semarang untuk bisa istirahat melepas penat. Jangan lupa abadikan momen liburan melegakan, lalu cetak dalam photobook bersama ID Photobook ya!

Baca juga: Parents, Yuk Bantu Mengatasi Stres Pada Anak Usia Sekolah!