Harus Lebih Peka, Yuk Kenali Tanda Stres Pada Anak!

Stres Pada Anak – Masa kanak-kanak biasanya diisi dengan berbagai kegiatan mengasyikan. Bermain bersama teman-teman, menari, melompat, hingga membangun hubungan persahabatan yang erat.

Namun sama seperti orang dewasa ternyata anak kita pun bisa stres. Sebab ternyata kehidupan seputar sekolah, rumah, dan teman sepermainan bisa membuat mereka tertekan. Misalnya tuntutan untuk selalu mendapat nilai yang baik, minimnya komunikasi dengan orang tua, hingga penolakan dari teman-teman.

Tentunya kita tak ingin masa kanak-kanak yang bahagia harus diisi dengan duka dan tekanan. Sehingga sebaiknya orang tua lebih peka dengan kondisi anak, amati perilaku mereka, siapa tau ada yang berubah. Hal ini penting agar orang tua bisa memberikan penanganan yang tepat sebelum kondisi semakin parah.

Nah berikut ini adalah tanda-tanda stres pada anak usia sekolah yang perlu orang tua ketahui.

Baca juga: Parents, Yuk Bantu Mengatasi Stres Pada Anak Usia Sekolah!

Gelisah dan Tidak Nyaman

Terkadang meski sudah sekolah bahkan memasuki usia remaja, anak masih kesulitan mengungkapkan perasaannya. Namun sebagai orang tua, sebaiknya kita lebih peka menangkap tanda stres pada anak remaja.

Misalnya saat tiba-tiba anak bersikap tidak nyaman dan gelisah saat berada di lingkungan tertentu seperti sekolah atau taman bermain. Jika melihat perubahan sikap ini, Anda tidak perlu langsung ‘menodong’ anak dengan pertanyaan-pertanyaan.

Saat mereka gelisah, bantulah anak untuk kembali tenang. Berikan kata-kata yang mampu menenangkan mereka. Yakinkan bahwa situasinya akan segera membaik. Ketika Anda dan anak sudah berada di rumah atau di lingkungan yang bisa membuat anak terlihat lebih tenang, barulah pancing anak untuk bercerita.

Ingat, jangan dipaksa. Meski Anda juga gelisah dan penasaran setengah mati, tugas Anda adalah untuk menyediakan tempat yang nyaman sampai mereka bersedia untuk cerita.

Mimpi Buruk dan Gangguan Tidur

Meski sering dianggap bunga tidur, ternyata mimpi tertentu bisa jadi alarm saat tubuh sedang stres. Misalnya saat mimpi dikejar-kejar sesuatu, bertengkar, mencari benda yang hilang, hingga ketinggalan moda transportasi tertentu.

Adanya mimpi buruk dapat mengganggu kualitas tidur anak. Mereka terjaga tengah malam dan kesulitan untuk kembali tidur. Parahnya anak bisa menolak untuk tidur karena terlalu cemas dan takut mimpi buruk datang lagi.

Gangguan tidur semacam ini dapat mengacaukan konsentrasi anak dalam belajar. Mereka jadi lebih mudah marah karena sulit untuk istirahat. Nah, Parents, ketika anak terjaga pada malam hari dan bermimpi buruk, tanyakan apakah anak sedang memiliki masalah.

Konsentrasi Belajar Terganggu

Nilai anak di sekolah mendadak turun? Eits, jangan langsung dimarahi, ya! Sebab tanda stres pada anak sekolah dapat berupa terganggunya konsentrasi saat belajar. Akibatnya performanya di sekolah ikut meredup.

Salah satu cara mengatasi stres pada anak sekolah adalah dengan menanyakan apakah ada yang kira-kira mengganggu konsentrasi belajarnya. Kemudian berpikiran terbuka dengan apa yang menjadi jawaban anak.

Stres Pada Anak - Konsentrasi Belajar Tergangu

Introspeksilah, jangan-jangan selama ini Anda yang membuat anak stres. Mungkin Anda tak sadar namun tindakan seperti membanding-bandingkan nilai anak dengan teman dan bahkan saudaranya sendiri bisa menjadi pemicu stres pada anak.

Oleh karenanya, sebaiknya Anda mengurangi kebiasaan tersebut. Setiap anak memiliki keunikan masing-masing yang tak bisa dipaksakan. Misalnya si kakak pandai pada bidang matematika, adiknya pandai pada bidang bahasa. Begitu juga dengan teman-temannya. Jadikan sekolah sebagai tempat untuk belajar, bukan berkompetisi.

Tiba-tiba Mengompol

Para ahli menyebutkan bawah kondisi stres memiliki pengaruh terhadap kandung kemih seseorang. Hal ini menimbulkan tubuh sulit untuk menahan kencing dan sering ngompol. Begitu juga dengan anak yang sedang stres.

Orang tua perlu waspada saat anak usia sekolah yang sudah tidak ngompol, tiba-tiba mengompol. Sebab bisa jadi gejala stres pada anak remaja.

Jadi jangan buru-buru ngomel ya, Parents. Sebab anak juga tidak sadar kenapa mereka bisa ngompol saat tidur. Lebih baik tanyakan apakah mereka ada masalah lalu bantu agar mereka bisa segera menyelesaikan masalah.

Anak Sering Sakit Tanpa Penyebab yang Jelas

Tanda anak sedang stres lainnya adalah sering sakit tanya ada penyebab yang jelas. Sakitnya pun bisa beragam, mulai dari sakit perut seperti diare dan kembung, hingga sakit kepala seperti migrain.

Karena tidak adanya kejelasan tentang penyebab dari sakit ini, orang tua juga jadi kebingungan mencari obat. Padahal rasa sakit ini bisa sangat mengganggu anak saat menjalani aktivitasnya.

Coba amati kapan anak mulai mengeluhkan sakit dan kapan rasa sakit itu mereda. Sebab biasanya rasa sakit tersebut hanya muncul saat anak sedang stres dan hilang lagi saat anak sudah kembali tenang. Misalnya saat hendak berangkat sekolah, nah bisa jadi rasa sakit ini tanda anak stres sekolah.

Perilaku Negatif dan Agresif

Anak yang sedang stres memiliki banyak energi negatif di dalam tubuhnya, sehingga tak jarang mereka justru banyak bergerak. Jika tidak diolah dengan benar, sikap aktif mereka ini bisa disalurkan menjadi hal-hal negatif.

Misalnya dengan memukul, menendang, hingga berteriak-teriak. Mereka juga cenderung lebih jahil dan mengganggu teman-temannya.

Stres Pada Anak - Perilaku Negatif dan Agresif

Tentu saja Anda tidak ingin anak dijauhi teman-temannya karena terlalu nakal dan agresif. Di sisi lain, Anda juga tidak boleh langsung memarahi mereka, bisa-bisa anak malah semakin menjauh.

Salah satu cara mengatasi anak yang tertekan adalah dengan mengajak mereka melampiaskan tekanan mereka. Anda bisa mengajak anak untuk berolahraga bersama, misalnya berenang atau main sepeda. Setelah itu ajak mereka ngobrol dan pancing untuk mereka bercerita.

Nah itu dia 6 tanda anak sedang stres, ya Parents. Kesannya sih mereka hanya berulah padahal mereka sedang tertekan.

Komunikasi adalah kunci untuk mengatasi stres pada anak. Sehingga sangat penting bagi orang tua untuk menyediakan waktu untuk ngobrol dengan anak. Cobalah untuk memahami cerita dari sudut pandang anak.

Jika stres berlanjut, tak ada salahnya untuk konsultasi dengan psikolog anak. Sediakan waktu juga untuk liburan bareng anak dan keluarga. Abadikan momen seru liburan dalam kamera digital. Lalu jangan lupa cetak fotonya bersama ID Photobook, ya!

Baca juga: Destinasi Liburan Unik Ini Cuma Ada di Indonesia!

Ibu Rumah Tangga Rentan Stres? Simak Penjelasannya Yuk!

Stres – Hi Moms! Pastinya masih banyak orang yang beranggapan menjadi ibu rumah tangga merupakan pekerjaan yang mudah. Tak perlu keluar rumah, hanya perlu memasak dan membersihkan rumah, lalu tinggal mengurus anak dan suami, pokoknya enak banget deh!

Eits, tidak semudah itu loh. Nyatanya ibu rumah tangga juga rentan stres. Bahkan tingkat stres pada ibu rumah tangga juga terbilang tinggi. Hal ini terjadi karena ibu rumah tangga bertanggung jawab secara penuh atas keluarga dan rumah tangganya.

Stres bisa menyerang siapapun bahkan ibu rumah tangga yang kelihatannya asyik di rumah. Justru karena mereka di rumah, stresor justru kerap muncul di tempat yang biasanya dianggap nyaman dan berlindung bagi kebanyakan orang.

Parahnya lagi, tidak semua orang memahami kemungkinan stres pada ibu rumah tangga. Mereka masih menganggap sepele permasalah yang Moms hadapi. Akhirnya Moms harus terus berduel dengan pemicu stres sendirian.

Nah, yuk Moms, kita simak penyebab stress pada ibu rumah tangga berikut ini. Biar lebih waspada dan bisa menghindari stressor yang ada!

Baca juga: Cermati 6 Tanda Stres Pada Balita, Parents Harus Tau!

Minimnya Pengakuan dari Masyarakat

Masyarakat masih banyak yang beranggapan bahwa menjadi ibu rumah tangga adalah pekerjaan yang mudah. Hanya mengurus rumah, hanya bersih-bersih rumah, hanya memasak dan menyiapkan bekal, dan lain sebagainya. Belum lagi jika suami sendiri ikut beranggapan demikian.

Padahal, meski hanya di rumah, istri bertanggung jawab penuh dengan keadaan rumah. Jadi ketika ada sesuatu yang kurang beres, pastinya istri lagi yang kena. Semuanya menjadi salah istri.

Nah, minimnya pengakuan akan peran serta tanggung jawab yang besar dapat menimbulkan rasa rendah diri pada ibu rumah tangga. Penghargaan diri yang rendah ini membuat ibu rumah tangga menjadi lebih mudah tertekan hingga akhirnya stres.

Melakukan Aktivitas Berat Secara Terus-menerus 

Kegiatan bersih-bersih rumah seperti memasak, menyapu, mencuci dan menjemur pakaian ternyata membutuhkan tenaga besar. Belum lagi kalau harus extra bersih-bersih rumah karena mau ada tamu. Duh bisa bikin badan pegal.

Belum lagi kalau anak rewel atau minta bantuan untuk mengerjakan PR. Sebagai ibu yang baik, nggak mungkin dong kita menolak anak tersayang. Mau tak mau kita jadi ikut berpikir bahkan harus mempelajari semuanya agar bisa membantu anak.

Stress - Melakukan Aktivitas Berat Secara Terus-menerus

Aktivitas fisik maupun berpikir ini bisa berlangsung lebih dari 12 jam. Sebab berbeda dengan pekerja kantoran yang punya jam pulang, ibu rumah tangga tak memiliki waktu pulang kantor. Biasanya hanya berhenti saat tidur pada malam hari. Itupun kalau bisa tidur.

Menjadi ibu rumah tangga pun tidak bisa cuti. Jadi, bayangkan rasa lelah yang menumpuk akibat aktivitas tersebut. Masih mau anggap remeh ibu rumah tangga?

Minimnya Hiburan dan Waktu Untuk Me-Time

Karena tinggal di rumah, keseharian istri hanya di rumah. Hiburan yang ada hanya sebatas televisi, radio, dan sosial media. Kalau hiburan di luar rumah, paling untuk belanja bulanan, ke pasar atau mengantar anak sekolah. 

Pekerjaan yang banyak juga membuat jadwal ibu padat. Sehingga sulit untuk meluangkan waktu untuk diri sendiri. Rutinitas padat, minimnya hiburan, dan kurangnya waktu untuk diri sendiri membuat Moms mudah merasa jenuh. 

Jangan salah, meski sudah berumah tangga, Moms juga perlu waktu untuk sendiri. Me time ini bisa diisi dengan aktivitas bersantai di rumah, ke salon, belanja, maupun tidur siang tanpa interupsi.

Menjadi ‘Tong Sampah’ Emosi

Sebagai seorang ibu, memang disarankan meluangkan waktu untuk anak dan mendengar cerita mereka sepulang sekolah. Begitu pula saat suami lelah dan baru pulang kerja. Kebiasaan ini memang penting untuk menjalin komunikasi sekaligus mengatasi stres pada anak dan suami.

Stres - Menjadi Tong Sampah

Namun meski seharian di rumah, ibu rumah tangga juga memiliki cerita! Moms juga ingin didengar, bukan? Dan sama seperti bercerita untuk mengurangi stres, Moms juga butuh tempat bercerita untuk mengurangi stres.

Wah, ternyata ada banyak hal-hal yang dapat memicu stres pada ibu rumah tangga, ya. Nggak kalah banyaknya dengan mereka yang seharian bekerja.

Tapi Moms nggak perlu khawatir, ya. Ada banyak cara mengatasi stres yang bisa Moms lakukan di rumah. Misalnya dengan berolahraga ringan, bermain dengan stres ball maupun sres relief lainnya, menekuni hobi baru, juga meluangkan waktu untuk diri sendiri. Yang nggak kalah penting, jangan lupa untuk berdamai dengan diri sendiri, ya Moms.

Ingatlah bahwa meski sering diremehkan, percayalah Moms begitu berharga dan tak akan terganti. Maafkan kesalahan yang mom perbuat, ingat pula keberadaan anak yang masih bergantung pada Moms, dan jangan pernah memaksakan diri.

Kalau penat nggak kunjung hilang, mungkin saatnya Moms pergi liburan! Agendakan acara sweet escape bersama keluarga maupun sendiri bareng sahabat. Pilih destinasi wisata yang tenang agar pikiran ikut tenang.

Jangan lupa abadikan momen melepas penat ini dengan kamera digital. Lalu cetak foto kenangan dalam album foto bersama ID Photobook. Biar kenanganmu makin abadi dan bisa dikenang dengan mudah di kemudian hari!

Baca juga: Stres Pada Remaja: Kenali Tanda, Penyebab, dan Solusinya!

Kenali Penyebab dan Trik Jitu Mengatasi Stres Pada Balita

Stres Pada Balita – Masa balita menjadi periode penting dalam tahapan tumbuh kembang anak. Dalam kurun waktu ini balita sedang memiliki rasa penasaran yang tinggi dan sedang aktif-aktifnya mencari informasi.

Di samping itu anak usia bayi di bawah lima tahun juga sedang semangat-semangatnya membangun relasi dengan teman sebaya. Teman bermain dan persahabatan mulai berkembang pada masa ini.

Namun tahukah Anda pada periode ini pula anak mulai bisa merasa kesepian dan mengalami penolakan. Bahwa bertemu dengan orang di luar lingkungan keluarga memungkinkan balita menerima banyak tekanan.

Stres atau tekanan yang dialami balita biasanya bersumber dari keharusan menunggu lama, rasa bosan, serta tidak mendapatkan apa yang diinginkan. Perthatian yang terpecah mapun tidak diperhatikan sama sekali dapat menimbulkan stres.

Seperti stres pada umumnya, penyebab stress pada bayi di bawah lima tahun pun dapat bermacam-macam. Untuk lebih lengkapnya, yuk simak apa saja penyebab stres pada bayi di bawah usia lima tahun serta cara mengatasinya.

Baca juga: Cermati 6 Tanda Stres Pada Balita, Parents Harus Tau!

Kurangnya Waktu Tidur

Pada umumnya anak usia balita memiliki waktu tidur hingga 12 jam sehari. Waktu tidur itu terbagi menjadi tidur siang maupun tidur malam. Meski kelihatannya durasi yang lama, kurangnya waktu tidur membuat cranky atau mudah marah.

Menangani stres pada balita akibat kurang tidur bisa dilakukan dengan menerapkan waktu tidur yang tepat. Anda bisa memulainya dengan menetapkan jam malam dan juga jam tidur siang. Misalnya sepulang sekolah setelah makan, maupun pada malam hari saat pukul 09.00.

Jauhkan anak dari segala jenis gangguan menjelang jam tidur yang telah disepakati. Jauhkan segala jenis gawai dan gunakan lampu tidur agar balita lebih nyaman. Jika kondisi balita tidak membaik, tanyakan apa yang membuat anak kurang tidur.

Bisa jadi karena mereka takut tidur sendirian maupun takut tidur dalam gelap. Maka nyalakan lebih banyak lampu meski bukan lampu utama maupun temani anak sebelum mereka tidur. Kondisi lain saat anak takut hantu atau monster, ajarkan mereka untuk mengalahkan rasa takut dengan berdoa sebelum tidur

Tidak Mendapatkan Apa yang Diinginkan

Penyebab stress pada balita yang paling umum adalah tidak berhasil mendapatkan apa yang mereka inginkan. Balita tertentu masih terlalu muda untuk memahami konsep berbagi dan meminjam.

Padahal ketika berinteraksi dengan teman sebaya, ada kemungkinan mereka mendapatkan penolakan. Misalnya, tidak dipinjami mainan, tidak mendapat bagian, tidak diajak bermain, dan juga tidak mendapat giliran.

Stres Pada Balita - Tidak Mendapatkan Apa yang Diinginkan

Bila di lingkup keluarga biasanya semua perhatian berpusat pada anak, hal itu belum tentu terjadi di lingkungan bermain. Bila biasanya mereka boleh memainkan semua mainan boleh sesuka hati, kali ini belum tentu temannya mengijinkan. Menerima penolakan semacam ini dapat membuat anak terkejut dan stres.

Cara mengatasinya adalah dengan memberikan mereka penjelasan dan pengertian tentang kepemilikan barang. Jelaskan tentang arti meminjam dan meminjamkan serta konsep berbagi. Jelaskan dengan cara sesederhana mungkin serta gunakan contoh agar anak Anda dapat memahaminya.

Kurang Aktivitas Menyenangkan

Balita memiliki energi yang besar. Namun bila energi ini tidak diimbangi dengan aktivitas menyenangkan, energi ini bisa berbalik menjadi tumpukan tekanan. Solusinya, Anda bisa menambahkan kegiatan di luar sekolah untuk anak.

Pada usia balita juga, anak sudah bisa menunjukkan bakat dan minatnya pada bidang tertentu. Nah tidak ada salahnya bila Anda mengikutkan anak pada ekstrakurikuler maupun les tertentu sesuai minat mereka.

Bila memungkinkan, biarkan anak mencoba segala hal yang mereka inginkan. Hal ini juga membantu perkembangan mereka. Baru setelah mencoba, tanyakan kegiatan mana yang paling mereka sukai, maka fokuskan anak untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Eh tapi ingat, anak juga tidak bisa untuk terus beraktivitas. Mereka juga membutuhkan waktu untuk istirahat dan bermain sesuka mereka. Oleh karena itu tetap sediakan waktu bagi mereka untuk bermain.

Minimnya Komunikasi dengan Orang Tua

Minimnya komunikasi dengan orang tua dapat membuat balita merasa stress karena kesepian. Meskipun pada usia ini mereka telah aktif mencari teman dan menjalin persahabatan, orang tua tetap menjadi yang nomor satu.

Maka jangan heran jika anak balita Anda masih suka bermanja-manja dan minta perhatian dari Anda. Bila tanda-tanda ini sudah muncul, maka Anda harus meluangkan waktu untuk anak. Ajaklah anak bermain mainan yang mereka suka atau menonton film favorit.

Stres Pada Balita - Minimnya Komunikasi Dengan Orang Tua

Dengan menghabiskan waktu bersama anak, orang tua bisa menyadari adanya memahami ketidaknyamanan yang balita rasakan. Misalnya keluhan pusing dan sakit perut saat harus melakukan sesuatu yang tidak mereka sukai. Sebab sangat mungkin stres pada balita berakar dari kegiatan-kegiatan tersebut.

Menghadapi Rasa Bosan

Anak usia balita biasanya cenderung aktif dan sukar berdiam diri. Mereka juga mudah bosan terutama saat harus menunggu lama. Padahal beberapa hal tidak bisa diburu-buru sesuai kemauan anak.

Menghadapi stress pada balita akibat bosan bisa dilakukan dengan bermain. Jadi ketika harus pergi ke tempat ramai dan harus menunggu lama, pastikan Anda membawa satu atau dua mainan favoritnya. Selain itu sediakan snack sebab mereka juga mudah lapar.

Anda juga bisa mengajak anak Anda untuk mengamati sekeliling dan memperhatikan hal-hal menarik. Sembari menunggu, tidak ada salahnya Anda menjelaskan situasi di sekitar Anda pada si anak. Misalnya profesi, bagaimana sesuatu beroperasi, serta objek-objek di sekitar.

Ekspresi Yang Terkekang

Anak usia balita menjadi periode anak suka melakukan aktivitas fisik. Jika balita stres, biasanya mereka akan mengurangi aktifitas ini. Padahal, kegiatan seperti bermain dan menari menjadi salah satu bentuk mengekspresikan diri.

Sebagai orang tua bijak, doronglah anak untuk bermain, menari, dan melompat sebebas mungkin. Ajari anak untuk bernyanyi, meski masih kesulitan menentukan nada maupun melafalkan kalimat. Menyanyi juga menjadi obat stres paling mujarab.

Stres Pada Balita - Ajak Untuk Bernyanyi

Puji mereka dengan bijak, dan dorong mereka untuk bercerita. Mulailah dengan menceritakan hari Anda, lalu tanya aktivitas apa yang mereka lakukan hari ini. Pastikan Anda memberikan perhatian khusus saat anak bercerita, supaya mereka merasa dihargai. Siapa tau, Anda bisa menemukan penyebab stres pada anak lewat cerita itu.

Suasana Rumah

Selanjutnya, cara mengatasi stress pada balita yang bisa dilakukan orang tua adalah dengan menciptakan suasana rumah yang nyaman. Rumah menjadi lingkungan terdekat anak. Maka sebisa mungkin ciptakanlah suasana yang nyaman bagi anak.

Tempat yang nyaman akan membuat anak merasa aman. Dengan begitu anak akan menganggap rumah sebagai tempat berlindung dan tempat di mana ia bebas berekspresi.

Sebagai orang yang lebih dewasa, bersikap tenang saat anak membuat masalah. Ingat, anak balita sedang banyak meniru sikap orang di sekitarnya, termasuk saat mengelola stres. Jadi berusahalah untuk sabar menghadapi anak Anda.

Baca Juga: Parents, Yuk Bantu Mengatasi Stres Pada Anak Usia Sekolah!

Stres Pada Remaja: Kenali Tanda, Penyebab, dan Solusinya!

Stres Pada Remaja – Masa remaja anak kita merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa ini anak telah mengenal persahabatan yang erat, mimpi serta cita-cita yang realistis, dan bahkan cinta pertama.

Pada masa ini juga anak mengalami pubertas seringkali perubahan hormon membuat emosi mereka ikut naik-turun secara tiba-tiba. Masa pubertas biasanya juga erat kaitannya dengan insekuritas karena terjadi perubahan-perubahan tertentu pada bentuk tubuh.

Belum lagi permasalahan di bidang akademis maupun lingkup pertemanan. Sadarkah Anda bahwa masa remaja bisa menjadi masa yang berat untuk anak? Sebab bila tidak memahaminya dengan benar, perubahan tersebut menimbulkan tekanan pada anak. Alhasil anak remaja kita malah stress dan parahnya menjadi depresi.

Sebagai orang tua bijak, baiknya mengenali tanda-tanda stress pada remaja yang mungkin mereka alami. Berikut ini adalah sekilas tentang tanda, penyebab dan penanganan stress pada remaja yang perlu diketahui orang tua.

Baca juga: Sering Bikin Orang Salah Kira, Yuk Kenali Apa itu Stres!

Tanda-Tanda Stress Pada Remaja

Masih Mengompol

Hal pertama yang menjadi tanda stres pada remaja adalah anak masih sering mengompol. Mengompol adalah suatu hal yang wajar bagi masa-masa awal kehidupan anak. Namun jika seiring bertambahnya usia anak masih sering mengompol, maka hal ini bisa menjadi tanda adanya gangguan pada anak.

Stres Pada Remaja - Mengompol

Baik itu gangguan pada kandung kemihnya, maupun gangguan terkait kondisi psikologis seperti stres. Sebab gangguan kecemasan dan stres kerap kali memberi efek melemahkan kandung kemih.

Oleh karenanya orang tua harus waspada saat anak remaja Anda yang sudah berhenti ngompol, tiba-tiba mengompol. Sebab besar kemungkinan anak tersebut sedang mengalami stres.

Mengalami Mimpi Buruk

Gejala stres pada remaja dapat ditandai dengan seringnya bermimpi buruk. Meski sebagian besar mimpi adalah bunga tidur, namun mimpi buruk seperti dikejar atau ketinggalan sesuatu bisa menjadi tanda tubuh sedang stres.

Sebab stres bisa jadi tidak tampak namun, tanpa sadar stres telah menimbulkan tekanan pada alam bawah sadar. Salah satu cara alam bawah sadar untuk menyampaikan bahwa kita sedang stres adalah dengan memberikan sinyal berupa mimpi buruk.

Kecenderungan Berperilaku Negatif

Stres dapat mengacaukan mood dan perilaku anak. Sehingga tidak jarang perilaku anak remaja kita yang stres akan berkebalikan dengan kebiasaan mereka. Misalnya saat mereka mulai berbicara kasar, malas belajar dan susah berkonsentrasi.

Pola tidur anak juga berubah secara drastis. Yakni mereka bisa kesulitan untuk tidur maupun tidur terlalu lama. Pada usia remaja, biasanya anak kita sudah bisa mengambil sikap untuk menjauh stresor.

Nah, perhatikan bagaimana anak berinteraksi dengan orang lain. Apakah mereka menghindari kelompok tertentu, atau malah menghindari kita. Sebaiknya Anda segera mengambil sikap dengan berusaha mencari informasi lebih banyak lewat guru, teman, maupun orang tua dari teman si anak.

Psikosomatis

Secara singkat, penyakit fisik yang disebabkan atau diperparah oleh kondisi mental disebut dengan psikosomatis.Penyakit atau sakit yang ditimbulkan biasanya menyerang satu bagian namun dapat berpindah-pindah. Apabila diperiksakan, anak tak menderita penyakit apapun.

Stres Pada Remaja - Psikosomatis

Misalnya anak mengalami sakit perut, sakit kepala atau pusing, hingga muntah-muntah tanpa sebab yang jelas. Biasanya rasa sakit ini baru akan muncul saat anak remaja kita sedang stres. Seperti saat anak menghadapi minggu ujian, saat akan presentasi, maupun saat tampil di depan panggung.

Penyebab dan Cara Mengatasi Stres Pada Remaja

Lingkungan Pertemanan Yang Kurang Sehat

Masa remaja juga merupakan masa dimana anak sedang mencari jati diri mereka. Mencari tau apa yang mereka inginkan, menentukan mimpi-mimpi, bahkan merencanakan pendidikan dan pekerjaan. 

Namun, lingkungan pertemanan yang kurang sehat dapat menjadi penghalang perwujudan mimpi-mimpi tersebut. Memang sebagai orang tua, sangat tidak bijak bila kita membatasi pertemanan anak, namun berikan pengertian tentang nilai persahabatan yang sesungguhnya.

Stres Pada Remaja - Lingkungan Pertemanan Yang Kurang Sehat

Terutama jika anak remaja kita masuk dalam lingkup pertemanan yang tidak suportif atau malah memandang rendah satu sama lain. Yakinkan anak bahwa sahabat yang baik harusnya saling menolong dan mendukung. Sahabat baik menjadi tempat untuk berbagi mimpi, berbagi suka dan berbagi duka.

Rasa Percaya Diri Rendah

Rasa percaya diri adalah kunci dari masa remaja anak. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, masa remaja lekat dengan perubahan-perubahan fisik maupun mental pada anak. Sehingga tak jarang perubahan ini menimbulkan reaksi negatif seperti rasa percaya diri yang rendah serta insekuritas.

Sebagai orang tua yang bijak, baiknya kita mendampingi anak saat mengalami perubahan tersebut. Berikan pengertian bahwa perubahan itu wajar dan dialami setiap orang meski belum tentu pada waktu yang bersamaan.

Yakinkan bahwa perubahan bentuk tubuh, suara, dan masalah jerawat tidak lantas membuat mereka lebih jelek dari yang lain. Justru sikap percaya diri saat mengalami perubahan merupakan nilai penting saat menjadi dewasa

Larangan Untuk Menangis

Menangis merupakan bentuk ekspresi seseorang saat sedih atau kecewa. Menangis bisa membantu meluapkan emosi yang menumpuk. Melarang anak untuk menangis sama saja mengekang anak untuk berekspresi.

Larangan ini kerap kali diserukan pada anak laki-laki. Namun, sadarkah Anda bahwa larangan menangis ini membuat anak laki-laki rentan dengan stress? Nah dampak stres pada remaja ini dapat berujung pada depresi.

Stres Pada Remaja - Larangan Menangis

Maka perlakukan anak laki-laki dan perempuan dengan sewajarnya. Biarkan mereka menangis untuk melepaskan emosi. Lalu, dampingi mereka dalam menyelesaikan masalah.

Orang Tua Terlalu Sering Melarang

Perilaku orang tua yang terlalu sering melarang dapat menimbulkan rasa tertekan pada remaja. Utamanya jika larangan tersebut tidak memiliki alasan yang jelas. Anak menjadi merasa tak bebas untuk mengungkap perasaan mereka sebab apa-apa dilarang.

Meskipun larangan itu merupakan upaya kita untuk menjaga anak, ada baiknya bila kita memberi kelonggaran. Berikan penjelasan mengapa Anda melarang remaja untuk melakukan hal-hal tertentu. Dari situ, anak akan belajar untuk bertanggung jawab serta memahami konsekuensi atas pilihan yang mereka ambil.

Pertengkaran Orang Tua

Bukan berarti orang tua tidak boleh menunjukkan pertengkaran di hadapan anak. Namun, bila bertengkar di depan anak, tunjukkan pula saat Anda dan pasangan berbaikan. Misalnya saat saling meminta maaf, mengakui kesalahan, maupun saat memaafkan.

Hal ini memang susah dilakukan, namun ingat kita adalah contoh yang akan ditiru anak. Mereka akan merekam bagaimana kita mengolah emosi, bertengkar, dan berdamai.

Nah itu dia sekilas tentang stres pada remaja. Semoga dengan mengenali tanda-tandanya, Anda bisa segera mencari tau permasalahan yang dihadapi anak. Dengan begitu Anda bisa menyiapkan apa saja yang sekiranya mereka butuhkan.

Kalau sedang stres dan butuh hiburan, ada baiknya jika Anda sekeluarga mengagendakan acara liburan bersama. Kalian bisa berlibur ke Bandung, Surabaya, maupun Semarang untuk bisa istirahat melepas penat. Jangan lupa abadikan momen liburan melegakan, lalu cetak dalam photobook bersama ID Photobook ya!

Baca juga: Parents, Yuk Bantu Mengatasi Stres Pada Anak Usia Sekolah!

Cermati 6 Tanda Stres Pada Balita, Parents Harus Tau!

Stres Pada Balita – Hi Parents! Tahukah Anda bahwa stres bisa menyerang siapapun? Orang dewasa dengan segudang masalahnya, juga anak-anak kita yang masih usia dini.

Balita mana mungkin stres! Eits, bisa loh. Kemampuan anak berinteraksi serta kondisi lingkungan di sekitar anak ternyata bisa menimbulkan tekanan-tekanan tertentu yang akhirnya menimbulkan stress pada balita.

Padahal kita sendiri tau bahaya yang timbul akibat stres. Stres bisa membuat kemampuan memecahkan masalah menurun, kesehatan dan kepercayaan diri pun ikut menurun. Nggak mau kan kalau sampai anak kesayangan harus stres?

Baca juga: Sering Bikin Orang Salah Kira, Yuk Kenali Apa itu Stres!

Apa Itu Stres?

Stres adalah suatu bentuk respon alami tubuh saat kita merasakan tekanan, ancaman serta perubahan situasi yang tidak diantisipasi tubuh. Kondisi-kondisi ini dapat memburuk dengan pengaruh lingkungan, jeleknya komunikasi dengan sesama, serta penghargaan diri yang rendah.

Seperti yang dijelaskan di atas, stres dapat menurunkan tingkat kesehatan, kepercayaan diri, hingga kemampuan untuk memecahkan masalah. Pada kondisi yang parah, stres dapat mendorong terjadinya perubahan tingkah laku pada anak.

Namun tak hanya berdampak negatif, dalam beberapa kondisi, stres dapat memberikan dampak positif. Yakni stres dapat membuat anak menjadi lebih bersemangat dan termotivasi untuk meraih sesuatu. Untuk itu pengelolaan stres pada bayi di bawah lima tahun juga sangat penting.

Apa Sih yang Menyebabkan Stress Pada Balita?

Penyebab stress pada bayi di bawah lima tahun dapat bermacam-macam. Bisa jadi balita stres karena kurang tidur, lapar, bosan, dan kesepian. Persoalan yang kelihatan sepele ini ternyata berarti untuk balita, terutama karena belum tentu mereka bisa menentukan perasaan mereka.

Kurang tidur membuat balita cranky dan memicu tantrum. Oleh karenanya, tanyakan apa yang membuat anak kurang tidur. Bisa jadi karena mereka takut dan kesulitan tidur, hingga bermimpi buruk.

Kesepian pada balita bisa terjadi karena minimnya komunikasi dengan orang tua. Sebab meski mereka telah memiliki teman sepermainan dan mulai menjalin persahabatan, orang tua tetap menjadi yang utama bagi anak. Maka jangan heran jika anak balita bersikap manja dan membutuhkan perhatian Anda.

Balita biasanya juga akan mengalami stres saat pengasuhnya berganti. Sebab, mereka harus menyamankan diri dengan wajah asing. Belum lagi jika perlakukan yang mereka terima berbeda, alhasil balita harus beradaptasi lagi.

Lantas, Apa Tanda-Tanda Stres Pada Balita?

Masuk ke bagian pokok, tanda-tanda stres pada balita bisa beragam. Namun yang paling mencolok adalah sikap anak yang mendadak mudah meledak marah. Selain itu, tanda stres pada balita juga dapat dilihat dari:

Stres Pada Balita - Mimpi Buruk

Sulit Tidur dan Bermimpi Buruk

Waktu tidur menjadi momen penting dalam jam tubuh manusia. Baik dewasa, muda, kakek-nenek maupun balita memerlukan waktu tidur yang cukup. Pada balita, rata-rata waktu tidur mencapai 12 jam sehari yang terbagi atas tidur siang dan tidur malam. Apabila mereka sulit tidur, bisa jadi mereka sedang stres.

Balita Melakukan Gerakan Berulang

Tanda stres pada balita juga bisa terlihat dari munculnya kebiasaan baru seperti melakukan gerakan berulang. Misalnya menarik-narik rambut, mengedipkan mata maupun batuk. Biasanya tanda-tanda ini juga akan dibarengi dengan rasa cemas pada anak,

Ledakan Tantrum

Periode balita memang dikenal dengan beragam emosi yang meledak-ledak. Mereka baru saja mengenali emosi-emosi tertentu dan belum bisa mengendalikannya. Kondisi ini akan diperparah bila anak sedang stres.

Balita bisa saja tiba-tiba meledak marah, menangis, lalu merengek tanpa alasan yang jelas. Kemudian, mereka tidak bisa menjelaskan alasan mereka bisa marah dan kesal. Nah, untuk itu sebaiknya orang tua senantiasa sabar menghadapi ledakan-ledakan itu dan memberi anak waktu.

Ketakutan dan Kecemasan Ekstrem

Sangat wajar bila balita merasa takut dan cemas saat melihat wajah-wajah baru. Namun, orang tua patut mempertanyakan bila hal ini terjadi terus-menerus. Cermati apakah mereka selalu takut dan cemas saat mendatangi lokasi tertentu, atau saat mereka bertemu dengan orang-orang tertentu.

Stres Pada Balita - Takut atau Cemas

Sikap Balita Terhadap Orang Lain

Sikap balita pada orang-orang di sekitarnya juga bisa menjadi petunjuk apakah balita sedang stres atau tidak. Yang perlu diperhatikan, balita bisa mengisolasi diri dari lingkungan dan keluarga saat stres. Namun, pada kasus lain, balita bisa memiliki kecenderungan untuk terus bergantung pada pengasuh dan orang tua.

Psikosomatis

Psikosomatis merupakan gangguan penyakit fisik seperti sakit perut dan kepala yang disebabkan oleh pikiran. Yang dimaksud dengan pikiran di sini adalah kondisi stres atau tertekan yang kemudian berubah menjadi sakit fisik.

Jadi orang tua perlu waspada jika anak mengalami sakit atau nyeri tersebut. Apakah benar-benar sakit atau bentuk lain dari stres, 

Cara Mengatasi Stress Pada Balita

Menangani stres pada balita dapat dilakukan dengan banyak cara. Semua itu tergantung pada pandai-pandainya orang tua menyampaikan maksudnya pada balita. Namun yang menjadi langkah awal untuk mengatasi stres pada balita adalah dengan meningkatkan Komunikasi dengan anak,

Orang tua bisa meningkatkan komunikasi dengan menghabiskan waktu lebih banyak bersama anak. Bermain, memasak, bahkan membuat prakarya bersama. Komunikasi dengan anak juga bisa dilakukan dengan sentuhan lembut dan kata-kata menenangkan.

Stres Pada Anak - Cara Mengatasi Stres

Membebaskan anak untuk berekspresi menjadi cara mengatasi stres pada balita selanjutnya. Ajaklah anak untuk bercerita dengan memberi contoh menceritakan sedikit hari Anda. Lalu doronglah anak untuk menceritakan pengalaman hari itu dengan bertanya.

Stres pada balita juga bisa diekspresikan dengan kegiatan bersama seperti menggambar dan bernyanyi. Berikan pujian yang bijak serta dorongan yang kuat agar mereka semakin percaya diri.

Nah parents, itu dia tanda-tanda stres pada balita dan sedikit gambaran untuk mengatasinya. Pastikan Anda dan pasangan bekerja sama untuk membangun suasana rumah yang nyaman dan mendukung kemampuan anak mengelola emosi dan stres.

Jangan lupa ajak keluarga liburan untuk meredakan tekanan yang menghimpit. Anda bisa berkunjung ke Bandung, Bogor maupun Korea untuk melepas stres! Setelah liburan, jangan lupa cetak foto di ID Photobook ya. Supaya kenangan seru melepas penat bisa diabadikan dan nantinya bisa dikenang dengan mudah!

Baca juga: Yuk, Bikin Photobook Unik di 4 Spot Wisata Kota Bandung Ini!