Masih Sering Dianggap Remeh, Apa Itu Kesehatan Mental?

Kesehatan Mental – Sama seperti kesehatan fisik, kamu juga perlu menjaga kesehatan mental. Jika olahraga dan makan makanan sehat membantu menjaga kesehatan fisik, lantas bagaimana dengan kesehatan mental?

Kesehatan mental seseorang sangat berkaitan dengan diri sendiri dan nantinya berkaitan dengan kemampuan individu untuk memaksimalkan potensi. Kesehatan mental tercermin dari kemampuan individu beradaptasi pada lingkungan baru, kepercayaan diri, serta menghadapi masalah.

Meski sudah banyak artikel kesehatan mental yang beredar, namun topik ini tak pernah habis untuk dibahas. Pentingnya kesehatan mental menjadi alasan seringnya topik ini dibahas.

Baca juga: Bisa Berujung Depresi! Yuk Pelajari Akibat Stres Pada Remaja

Apa yang Dimaksud Kesehatan Mental?

Sebelum membahas lebih lanjut, ada baiknya mengenali apa yang dimaksud dengan kesehatan mental. Kesehatan mental adalah kondisi dimana mental seseorang merasa tenang, nyaman, dan dapat memaksimalkan potensinya.

Dengan demikian, orang dengan kesehatan mental yang baik dapat mengatasi tekanan dan berfungsi secara produktif. Sebaliknya, ketidaksehatan mental berhubungan dengan kondisi seseorang yang merasa tidak nyaman untuk melakukan sesuatu.

Seringkali terminologi kesehatan mental masih digunakan untuk menyebut orang-orang dengan gangguan atau kondisi ketidaksehatan mental. Padahal penggunaan istilah ini kurang tepat untuk menyebut adanya gangguan atau masalah pada kesehatan mental.

Apa Pentingnya Menjaga Kesehatan Mental?

Orang yang mengalami gangguan kesehatan mental akan sulit berkomunikasi dan terhubung’ dengan dunia di sekelilingnya. Ia cenderung menjadi tidak produktif, bahkan kesulitan untuk merawat diri.

Bak dua sisi koin, kesehatan fisik dan kesehatan mental harus dijaga dengan baik. Selain makan makanan sehat dan olahraga teratur, penting juga untuk tidur yang cukup serta menjaga interaksi positif.

Sayangnya, kesadaran tentang kesehatan mental di Indonesia masih sangat rendah, utamanya kesehatan mental remaja. Lebih sering orang yang tidak sehat mental justru dianggap lemah dan sedang ‘mencari perhatian’.

Hal-hal Yang Mempengaruhi Kesehatan Mental

Setelah mengetahui arti pentingnya, ada baiknya memahami hal-hal yang mempengaruhi kesehatan mental seseorang. Kesehatan mental dipengaruhi oleh kondisi sekitar individu, faktor genetik, stress, serta riwayat yang dimiliki.

Kondisi sekitar individu bermakna adanya masalah yang berlarut-larut seperti masalah kehilangan pekerjaan, kondisi keuangan, merawat orang sakit, dan juga diskriminasi. Sedangkan faktor genetik dapat berupa kelainan pada senyawa otak.

Kesehatan Mental - Hal-hal Yang Mempengaruhi Kesehatan Mental

Gangguan kesehatan mental juga dapat dipengaruhi oleh adanya riwayat kekerasan maupun penggunaan narkotika terlarang. Perasaan terisolasi, trauma pasca peperangan dan kecelakaan juga dapat mempengaruhi kondisi seseorang.

Pencegahaan Adalah Langkah Awal Yang Penting

Bagaimanapun juga, mencegah lebih baik dari mengobati. Oleh karenanya sangat penting untuk mengetahui langkah-langkah pencegahan.

Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya gangguan mental. Pertama, mulailah untuk memaafkan diri sendiri dan melakukan aktifitas olahraga. Berpikiran positif dan kelilingi diri dengan orang-orang berpikiran positif.

Namun demikian, jangan sampai terjebak dalam lingkaran toxic positivity. Yakni kondisi dimana seseorang berada dalam lingkungan positif yang berlebihan. Dimana apapun yang berlebihan juga tak baik.

Jangan lupa belajar untuk lebih memahami diri sendiri. Jangan mengandalkan orang lain untuk mengerti, namun jadilah sosok yang paling mengerti diri sendiri.

Cara Mengatasi Gangguan Kesehatan Mental

Masih ada harapan untuk penderita gangguan kesehatan mental. Dengan perawatan khusus yang intensif, sangat mungkin bagi mereka untuk kembali sehat seperti sedia kala.

Salah satunya adalah dengan melakukan terapi rutin. Lakukan konsultasi rutin dengan psikolog atau psikiater. Konsultasi ini diharapkan dapat membantu individu mencari jalan keluar dari permasalahan mereka.

Kesehatan Mental - Cara Mengatasi Gangguan Kesehatan Mental

Selain itu dapat dilakukan dengan konsumsi obat dan mengikuti support group. Secara pribadi orang dengan gangguan kesehatan mental juga dapat menyusun target-target kecil agar kembali memiliki tujuan.

Nah itu dia gambaran singkat tentang kesehatan mental dan gangguan kesehatan mental. Semoga cukup mudah dipahami, ya.

Baca juga: Stres Pada Remaja: Kenali Tanda, Penyebab, dan Solusinya!

Stres Pada Remaja: Kenali Tanda, Penyebab, dan Solusinya!

Stres Pada Remaja – Masa remaja anak kita merupakan masa peralihan dari anak-anak menuju dewasa. Pada masa ini anak telah mengenal persahabatan yang erat, mimpi serta cita-cita yang realistis, dan bahkan cinta pertama.

Pada masa ini juga anak mengalami pubertas seringkali perubahan hormon membuat emosi mereka ikut naik-turun secara tiba-tiba. Masa pubertas biasanya juga erat kaitannya dengan insekuritas karena terjadi perubahan-perubahan tertentu pada bentuk tubuh.

Belum lagi permasalahan di bidang akademis maupun lingkup pertemanan. Sadarkah Anda bahwa masa remaja bisa menjadi masa yang berat untuk anak? Sebab bila tidak memahaminya dengan benar, perubahan tersebut menimbulkan tekanan pada anak. Alhasil anak remaja kita malah stress dan parahnya menjadi depresi.

Sebagai orang tua bijak, baiknya mengenali tanda-tanda stress pada remaja yang mungkin mereka alami. Berikut ini adalah sekilas tentang tanda, penyebab dan penanganan stress pada remaja yang perlu diketahui orang tua.

Baca juga: Sering Bikin Orang Salah Kira, Yuk Kenali Apa itu Stres!

Tanda-Tanda Stress Pada Remaja

Masih Mengompol

Hal pertama yang menjadi tanda stres pada remaja adalah anak masih sering mengompol. Mengompol adalah suatu hal yang wajar bagi masa-masa awal kehidupan anak. Namun jika seiring bertambahnya usia anak masih sering mengompol, maka hal ini bisa menjadi tanda adanya gangguan pada anak.

Stres Pada Remaja - Mengompol

Baik itu gangguan pada kandung kemihnya, maupun gangguan terkait kondisi psikologis seperti stres. Sebab gangguan kecemasan dan stres kerap kali memberi efek melemahkan kandung kemih.

Oleh karenanya orang tua harus waspada saat anak remaja Anda yang sudah berhenti ngompol, tiba-tiba mengompol. Sebab besar kemungkinan anak tersebut sedang mengalami stres.

Mengalami Mimpi Buruk

Gejala stres pada remaja dapat ditandai dengan seringnya bermimpi buruk. Meski sebagian besar mimpi adalah bunga tidur, namun mimpi buruk seperti dikejar atau ketinggalan sesuatu bisa menjadi tanda tubuh sedang stres.

Sebab stres bisa jadi tidak tampak namun, tanpa sadar stres telah menimbulkan tekanan pada alam bawah sadar. Salah satu cara alam bawah sadar untuk menyampaikan bahwa kita sedang stres adalah dengan memberikan sinyal berupa mimpi buruk.

Kecenderungan Berperilaku Negatif

Stres dapat mengacaukan mood dan perilaku anak. Sehingga tidak jarang perilaku anak remaja kita yang stres akan berkebalikan dengan kebiasaan mereka. Misalnya saat mereka mulai berbicara kasar, malas belajar dan susah berkonsentrasi.

Pola tidur anak juga berubah secara drastis. Yakni mereka bisa kesulitan untuk tidur maupun tidur terlalu lama. Pada usia remaja, biasanya anak kita sudah bisa mengambil sikap untuk menjauh stresor.

Nah, perhatikan bagaimana anak berinteraksi dengan orang lain. Apakah mereka menghindari kelompok tertentu, atau malah menghindari kita. Sebaiknya Anda segera mengambil sikap dengan berusaha mencari informasi lebih banyak lewat guru, teman, maupun orang tua dari teman si anak.

Psikosomatis

Secara singkat, penyakit fisik yang disebabkan atau diperparah oleh kondisi mental disebut dengan psikosomatis.Penyakit atau sakit yang ditimbulkan biasanya menyerang satu bagian namun dapat berpindah-pindah. Apabila diperiksakan, anak tak menderita penyakit apapun.

Stres Pada Remaja - Psikosomatis

Misalnya anak mengalami sakit perut, sakit kepala atau pusing, hingga muntah-muntah tanpa sebab yang jelas. Biasanya rasa sakit ini baru akan muncul saat anak remaja kita sedang stres. Seperti saat anak menghadapi minggu ujian, saat akan presentasi, maupun saat tampil di depan panggung.

Penyebab dan Cara Mengatasi Stres Pada Remaja

Lingkungan Pertemanan Yang Kurang Sehat

Masa remaja juga merupakan masa dimana anak sedang mencari jati diri mereka. Mencari tau apa yang mereka inginkan, menentukan mimpi-mimpi, bahkan merencanakan pendidikan dan pekerjaan. 

Namun, lingkungan pertemanan yang kurang sehat dapat menjadi penghalang perwujudan mimpi-mimpi tersebut. Memang sebagai orang tua, sangat tidak bijak bila kita membatasi pertemanan anak, namun berikan pengertian tentang nilai persahabatan yang sesungguhnya.

Stres Pada Remaja - Lingkungan Pertemanan Yang Kurang Sehat

Terutama jika anak remaja kita masuk dalam lingkup pertemanan yang tidak suportif atau malah memandang rendah satu sama lain. Yakinkan anak bahwa sahabat yang baik harusnya saling menolong dan mendukung. Sahabat baik menjadi tempat untuk berbagi mimpi, berbagi suka dan berbagi duka.

Rasa Percaya Diri Rendah

Rasa percaya diri adalah kunci dari masa remaja anak. Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, masa remaja lekat dengan perubahan-perubahan fisik maupun mental pada anak. Sehingga tak jarang perubahan ini menimbulkan reaksi negatif seperti rasa percaya diri yang rendah serta insekuritas.

Sebagai orang tua yang bijak, baiknya kita mendampingi anak saat mengalami perubahan tersebut. Berikan pengertian bahwa perubahan itu wajar dan dialami setiap orang meski belum tentu pada waktu yang bersamaan.

Yakinkan bahwa perubahan bentuk tubuh, suara, dan masalah jerawat tidak lantas membuat mereka lebih jelek dari yang lain. Justru sikap percaya diri saat mengalami perubahan merupakan nilai penting saat menjadi dewasa

Larangan Untuk Menangis

Menangis merupakan bentuk ekspresi seseorang saat sedih atau kecewa. Menangis bisa membantu meluapkan emosi yang menumpuk. Melarang anak untuk menangis sama saja mengekang anak untuk berekspresi.

Larangan ini kerap kali diserukan pada anak laki-laki. Namun, sadarkah Anda bahwa larangan menangis ini membuat anak laki-laki rentan dengan stress? Nah dampak stres pada remaja ini dapat berujung pada depresi.

Stres Pada Remaja - Larangan Menangis

Maka perlakukan anak laki-laki dan perempuan dengan sewajarnya. Biarkan mereka menangis untuk melepaskan emosi. Lalu, dampingi mereka dalam menyelesaikan masalah.

Orang Tua Terlalu Sering Melarang

Perilaku orang tua yang terlalu sering melarang dapat menimbulkan rasa tertekan pada remaja. Utamanya jika larangan tersebut tidak memiliki alasan yang jelas. Anak menjadi merasa tak bebas untuk mengungkap perasaan mereka sebab apa-apa dilarang.

Meskipun larangan itu merupakan upaya kita untuk menjaga anak, ada baiknya bila kita memberi kelonggaran. Berikan penjelasan mengapa Anda melarang remaja untuk melakukan hal-hal tertentu. Dari situ, anak akan belajar untuk bertanggung jawab serta memahami konsekuensi atas pilihan yang mereka ambil.

Pertengkaran Orang Tua

Bukan berarti orang tua tidak boleh menunjukkan pertengkaran di hadapan anak. Namun, bila bertengkar di depan anak, tunjukkan pula saat Anda dan pasangan berbaikan. Misalnya saat saling meminta maaf, mengakui kesalahan, maupun saat memaafkan.

Hal ini memang susah dilakukan, namun ingat kita adalah contoh yang akan ditiru anak. Mereka akan merekam bagaimana kita mengolah emosi, bertengkar, dan berdamai.

Nah itu dia sekilas tentang stres pada remaja. Semoga dengan mengenali tanda-tandanya, Anda bisa segera mencari tau permasalahan yang dihadapi anak. Dengan begitu Anda bisa menyiapkan apa saja yang sekiranya mereka butuhkan.

Kalau sedang stres dan butuh hiburan, ada baiknya jika Anda sekeluarga mengagendakan acara liburan bersama. Kalian bisa berlibur ke Bandung, Surabaya, maupun Semarang untuk bisa istirahat melepas penat. Jangan lupa abadikan momen liburan melegakan, lalu cetak dalam photobook bersama ID Photobook ya!

Baca juga: Parents, Yuk Bantu Mengatasi Stres Pada Anak Usia Sekolah!

Cermati 6 Tanda Stres Pada Balita, Parents Harus Tau!

Stres Pada Balita – Hi Parents! Tahukah Anda bahwa stres bisa menyerang siapapun? Orang dewasa dengan segudang masalahnya, juga anak-anak kita yang masih usia dini.

Balita mana mungkin stres! Eits, bisa loh. Kemampuan anak berinteraksi serta kondisi lingkungan di sekitar anak ternyata bisa menimbulkan tekanan-tekanan tertentu yang akhirnya menimbulkan stress pada balita.

Padahal kita sendiri tau bahaya yang timbul akibat stres. Stres bisa membuat kemampuan memecahkan masalah menurun, kesehatan dan kepercayaan diri pun ikut menurun. Nggak mau kan kalau sampai anak kesayangan harus stres?

Baca juga: Sering Bikin Orang Salah Kira, Yuk Kenali Apa itu Stres!

Apa Itu Stres?

Stres adalah suatu bentuk respon alami tubuh saat kita merasakan tekanan, ancaman serta perubahan situasi yang tidak diantisipasi tubuh. Kondisi-kondisi ini dapat memburuk dengan pengaruh lingkungan, jeleknya komunikasi dengan sesama, serta penghargaan diri yang rendah.

Seperti yang dijelaskan di atas, stres dapat menurunkan tingkat kesehatan, kepercayaan diri, hingga kemampuan untuk memecahkan masalah. Pada kondisi yang parah, stres dapat mendorong terjadinya perubahan tingkah laku pada anak.

Namun tak hanya berdampak negatif, dalam beberapa kondisi, stres dapat memberikan dampak positif. Yakni stres dapat membuat anak menjadi lebih bersemangat dan termotivasi untuk meraih sesuatu. Untuk itu pengelolaan stres pada bayi di bawah lima tahun juga sangat penting.

Apa Sih yang Menyebabkan Stress Pada Balita?

Penyebab stress pada bayi di bawah lima tahun dapat bermacam-macam. Bisa jadi balita stres karena kurang tidur, lapar, bosan, dan kesepian. Persoalan yang kelihatan sepele ini ternyata berarti untuk balita, terutama karena belum tentu mereka bisa menentukan perasaan mereka.

Kurang tidur membuat balita cranky dan memicu tantrum. Oleh karenanya, tanyakan apa yang membuat anak kurang tidur. Bisa jadi karena mereka takut dan kesulitan tidur, hingga bermimpi buruk.

Kesepian pada balita bisa terjadi karena minimnya komunikasi dengan orang tua. Sebab meski mereka telah memiliki teman sepermainan dan mulai menjalin persahabatan, orang tua tetap menjadi yang utama bagi anak. Maka jangan heran jika anak balita bersikap manja dan membutuhkan perhatian Anda.

Balita biasanya juga akan mengalami stres saat pengasuhnya berganti. Sebab, mereka harus menyamankan diri dengan wajah asing. Belum lagi jika perlakukan yang mereka terima berbeda, alhasil balita harus beradaptasi lagi.

Lantas, Apa Tanda-Tanda Stres Pada Balita?

Masuk ke bagian pokok, tanda-tanda stres pada balita bisa beragam. Namun yang paling mencolok adalah sikap anak yang mendadak mudah meledak marah. Selain itu, tanda stres pada balita juga dapat dilihat dari:

Stres Pada Balita - Mimpi Buruk

Sulit Tidur dan Bermimpi Buruk

Waktu tidur menjadi momen penting dalam jam tubuh manusia. Baik dewasa, muda, kakek-nenek maupun balita memerlukan waktu tidur yang cukup. Pada balita, rata-rata waktu tidur mencapai 12 jam sehari yang terbagi atas tidur siang dan tidur malam. Apabila mereka sulit tidur, bisa jadi mereka sedang stres.

Balita Melakukan Gerakan Berulang

Tanda stres pada balita juga bisa terlihat dari munculnya kebiasaan baru seperti melakukan gerakan berulang. Misalnya menarik-narik rambut, mengedipkan mata maupun batuk. Biasanya tanda-tanda ini juga akan dibarengi dengan rasa cemas pada anak,

Ledakan Tantrum

Periode balita memang dikenal dengan beragam emosi yang meledak-ledak. Mereka baru saja mengenali emosi-emosi tertentu dan belum bisa mengendalikannya. Kondisi ini akan diperparah bila anak sedang stres.

Balita bisa saja tiba-tiba meledak marah, menangis, lalu merengek tanpa alasan yang jelas. Kemudian, mereka tidak bisa menjelaskan alasan mereka bisa marah dan kesal. Nah, untuk itu sebaiknya orang tua senantiasa sabar menghadapi ledakan-ledakan itu dan memberi anak waktu.

Ketakutan dan Kecemasan Ekstrem

Sangat wajar bila balita merasa takut dan cemas saat melihat wajah-wajah baru. Namun, orang tua patut mempertanyakan bila hal ini terjadi terus-menerus. Cermati apakah mereka selalu takut dan cemas saat mendatangi lokasi tertentu, atau saat mereka bertemu dengan orang-orang tertentu.

Stres Pada Balita - Takut atau Cemas

Sikap Balita Terhadap Orang Lain

Sikap balita pada orang-orang di sekitarnya juga bisa menjadi petunjuk apakah balita sedang stres atau tidak. Yang perlu diperhatikan, balita bisa mengisolasi diri dari lingkungan dan keluarga saat stres. Namun, pada kasus lain, balita bisa memiliki kecenderungan untuk terus bergantung pada pengasuh dan orang tua.

Psikosomatis

Psikosomatis merupakan gangguan penyakit fisik seperti sakit perut dan kepala yang disebabkan oleh pikiran. Yang dimaksud dengan pikiran di sini adalah kondisi stres atau tertekan yang kemudian berubah menjadi sakit fisik.

Jadi orang tua perlu waspada jika anak mengalami sakit atau nyeri tersebut. Apakah benar-benar sakit atau bentuk lain dari stres, 

Cara Mengatasi Stress Pada Balita

Menangani stres pada balita dapat dilakukan dengan banyak cara. Semua itu tergantung pada pandai-pandainya orang tua menyampaikan maksudnya pada balita. Namun yang menjadi langkah awal untuk mengatasi stres pada balita adalah dengan meningkatkan Komunikasi dengan anak,

Orang tua bisa meningkatkan komunikasi dengan menghabiskan waktu lebih banyak bersama anak. Bermain, memasak, bahkan membuat prakarya bersama. Komunikasi dengan anak juga bisa dilakukan dengan sentuhan lembut dan kata-kata menenangkan.

Stres Pada Anak - Cara Mengatasi Stres

Membebaskan anak untuk berekspresi menjadi cara mengatasi stres pada balita selanjutnya. Ajaklah anak untuk bercerita dengan memberi contoh menceritakan sedikit hari Anda. Lalu doronglah anak untuk menceritakan pengalaman hari itu dengan bertanya.

Stres pada balita juga bisa diekspresikan dengan kegiatan bersama seperti menggambar dan bernyanyi. Berikan pujian yang bijak serta dorongan yang kuat agar mereka semakin percaya diri.

Nah parents, itu dia tanda-tanda stres pada balita dan sedikit gambaran untuk mengatasinya. Pastikan Anda dan pasangan bekerja sama untuk membangun suasana rumah yang nyaman dan mendukung kemampuan anak mengelola emosi dan stres.

Jangan lupa ajak keluarga liburan untuk meredakan tekanan yang menghimpit. Anda bisa berkunjung ke Bandung, Bogor maupun Korea untuk melepas stres! Setelah liburan, jangan lupa cetak foto di ID Photobook ya. Supaya kenangan seru melepas penat bisa diabadikan dan nantinya bisa dikenang dengan mudah!

Baca juga: Yuk, Bikin Photobook Unik di 4 Spot Wisata Kota Bandung Ini!